Showing posts with label pemikiran. Show all posts
Showing posts with label pemikiran. Show all posts

Tuesday, August 27, 2024

Pentingnya beradab sebelum berilmu

"Negara ini tidak kekurangan orang pintar, hanya saja kekurangan orang jujur", kalimat tersebut tentunya tidak asing kita dengar sejak dulu, bahkan sejak sebelum kemerdekaan rasanya jika membuka sejarah hal ini tergambar jelas bagaimana pentingnya memiliki budi pekerti (adab) sebelum mempelajari ilmu. Karna bukan tanpa alasan dalam film Guru Bangsa Tjokroaminoto diceritakan bahwa beberapa pengikut Beliau yang belajar, bahkan ada adik iparnya sendiri malah terbawa faham sama rata sama rasa yang menjadi cikal bakal komunis.

Pantas saja ada kabar burung yang mengatakan hasil karya tulis Pak Tjokro ini dijaga dan tidak boleh dibaca oleh sembarangan orang karena dikhawatirkan jika salah memahaminya maka orang tersebut bisa menganut paham komunis tulen, agamis ataupun nasionalis. 

Hal ini diperkuat juga oleh kitab-kitab ulama terdahulu sebut saja kitab Adabul 'alim wal muta'allim dan juga kitab dari Imam Al-Ghazali yang berjudul Bidayatul Hidayah. Bahkan mungkin saja kitab karya Hadratus Syaikh K.H Hasyim Asy'ari sendiri terinspirasi dari Kitabnya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali itu sendiri, karena dari pembukaannya saja keduanya tersirat kemiripan.

Jika menurut Imam Al-Ghazali menuliskan pentingnya niat awal ketika mulai belajar mengumpulkan ilmu, bisa selaras dengan budi pekerti yang merupakan hasil akhir dari ilmu itu sendiri. Bukan tanpa dasar saya berasumsi demikian, karena Hal ini selaras dengan Hadits Nabi yang mengatakan bahwa Beliau (Nabi) diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak.

Karena itu sahabat, mari kita mulai kembali membuka halaman baru, membuka hari baru, dan membuka hati kita untuk bersama-sama belajar mengenai adab dan ilmu. 

Karena Nabi sendiri saja ketika belum mendapatkan wahyu beliau sudah mendapatkan gelar Al-Amin karena kejujuran dan amanahnya Beliau.

Jadi mulai sekarang, jangan salahkan keadaan atau siapapun, karena mungkin kita sendiri yang belum memiliki adab yang baik sehingga ilmu yang baik pun juga enggan masuk ke dalam hati dan diri kita. 

Wallahu a'lam
Billahi fii sabilil haq
Share:

Sunday, January 6, 2019

1 atau 2

1 atau 2

saat ini kata itu begitu viral dan amat begitu sensitif karena di tahun ini dunia politik Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan Presiden untuk periode berikutnya.

dikubu sebelah mereka begitu berkuasa dalam media elektronik ataupun media cetak, tapi di sosial media kubu yang lain amat mendominasi media ini dan menaikan elektabilitas sebagai lawan dari petahana.

sebisa mungkin saya akan bersikap netral sebagaimana perintah dari salah satu guru saya Habib Novel Alaydrus, dimana cukup saya saja yang mengetahui siapa yang akan saya pilih di 17 April nanti.

saya tidak perduli dengan orang yang mencela atau memaki karena hidup itu tidak akan bisa dipisahkan dari duasisi hal tersebut, sekalipun kita sudah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan namun dalam ajaran agama saya tidak boleh ada paksaan.

dan hal pemaksaan inilah yang menjadi riuhnya perang pendapat antara dua kubu yang pro petahana dan pro oposisi, dua kubu ini memaksakan pendapat mereka masing-masing agar mempercayai informasi yang mereka berikan, padahal sampai gajah masuk lubang semut pun kubu petahana akan menolak informasi yang dipaparkan oleh kubu oposisi.

keadaan ini terjadi bukan tanpa sebab, tapi harusnya jadi isyarat untuk kita semua kembali mengenali diri kita, mengenali untuk apa kita hidup yang dalam bahasa sufi lebih dikenal dengan kata ma'rifat

Tuan Syaikh Abdul Qodir Jilani mengibaratkan bahwa ma'rifat itu ibarat daun, dan daun sendiri adalah penghasil oksigen bagi kehidupan, dan tempat untuk berfotosintesis tumbuhan agar mereka mempunyai makanan.

sementara itu ahli sejarah Indonesia yang sekaligus dosen yakni Muhammad mengatakan hal yang hampir sama dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Syaikh yakni kondisi masyarakat kita sekarang seperti daun kering yang sulit untuk disatukan, tapi akan mudah untuk dibakar.

jika kita menarik benang merah diantara 2 analogi mengenai daun tadi, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kondisi masyarakat kita sekarang sudah lupa terhadap dirinya sendiri, lupa terhadap tujuan manusia diciptakan dan lupa terhadap Tuhan, sehingga tak heran banyak netizen yang menjadi tuhan-tuhan yang dengan gampang menuduh, memvonis tanpa informasi yang kredibel.

karena itu baraya semua, marilah kita sadari bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah, karena perbedaan itu sendiri adalah saling melengkapi seperti manusia yang diciptakan dengan 2 jenis yakni lelaki dan perempuan.

janganlah yang satu mencela yang lain, karena tabiat manusia itu akan membalas hal yang serupa kecuali orang yang diberi petunjuk oleh-Nya, alangkah lebih baiknya para netizen yang berbeda kubu saling menshare kebaikan-kebaikan.

jangan mendahului takdir Tuhan dengan mengatakan jika dia berkuasa akan seperti ini, ini dan ini, jangan takut terhadap masa depan, dan jangan pula bersedih untuk keadaan saat ini, itulah ciri orang beriman yang tertulis dalam Al-Qur'an.

kita ini bersaudara antara yang satu dengan yang lainnya, jika berbeda keyakinan kita masih saudara sebangsa, jika berbeda pilihan tak perlu dipersoalkan karena tugas kita hanya untuk memilih pilihan kita sendiri, bukan untuk memaksakan pilihan kita kepada orang lain

salam damai, cinta dan kasih sayang
Salamu'alaikum

Share:

Sunday, December 9, 2018

hilangnya Tuhan di era canggihnya teknologi dan kemajuan zaman part 2

Bismillah Alhamdulillah Washalatu Wasalaamu'alaa Rasulillaah

Sebelumnya saya mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan pemaparan yang akan saya sampaikan, bukan saya benci dengan hal yang sekelompok atau segolongan orang Islam yang merasa diri mereka benar sedangkan orang lain salah,,,

saya ingatkan bahwa kita semua itu rugi kecuali orang yang beriman dan beramal shaleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, sampai sini dulu saya garis bawahi mengenai saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, bukan untuk saling mengkritisi untuk menjatuhkan yang berujung saling menyalahkan!!!

hei kita itu diciptakan sebagai 'abid alias seorang hamba bukan untuk menjadi tuhan yang menuduh antum yang benar dan mereka yang salah, jangan kalah dengan Smartphone Android antum yang bisa menampilkan informasi apa saja tanpa didahului prasangka dan rasa tidak suka, karena sekalipun berasal dari Qur'an dan Sunnah jika kalian tidak suka pasti antum akan mencari pembenaran untuk mengelak!!!

harusnya antum semua pelajari dulu sejarah tentang jalur pemahaman yang antum pakai, jangan belajar yang positifnya saja tapi belajar yang negatifnya juga dan sisanya antum sendiri yang menentukan apakah akan ikut faham ini atau tidak, antum semua itu baru dalam tahap hijrah, dan ketika antum mengetahui hal itu benar, apa pantas antum merasa menjadi yang paling benar?, pantaskah orang yang masih belajar menyalahkan orang yang sudah lama belajar?,,,

saya bicara seperti ini karena saya pernah menjadi seperti antum semua, kita bisa mencomot Hadits 2 dari google dengan mudah untuk menguatkan argumentasi tapi ketika kalah berkilah dengan perdebatan dibenci, padahal antum sendiri yang memancing perdebatan dengan membid'ahkan tahlilan, mauludan qunut dsb,,,

akal kita dipaksa untuk percaya tentang bid'ah yang dilakukan oleh para ahlus sunnah padahal antum sendiri jarang melakukan amalan Sunnah yang diriwayatkan Hadits yang shahih, contoh ketika malam Jum'at Ahlus Sunnah membaca Yasin, apa dimalam yang sama antum membaca Surat Al-Kahfi?, atau muraja'ah hafalan antum?, atau antum hanya sibuk mencari orang-orang yang update tentang yasinan kemudian antum hadir untuk menjatuhkan mereka!!!
tapi apakah kita pernah menggunakan akal kita untuk memikirkan maksud sebuah dalil itu mengarahnya kemana, menurut kaidah ilmu bahasa arabnya bagaimana atau jika tidak bisa menurut tafsir bahasa Indonesia mengarahnya kemana, jangan menafsirkan ayat-ayat dengan pemahaman antum dan golongan antum sehingga menjadikan perdebatan bahkan timbul kebencian!!!

mungkin jika orang awam yang ikut-ikutan akan bisa mengikuti antum, tapi ketika antum bertemu dengan orang yang ilmunya diatas antum, apakah akal antum dan hati antum akan menerima kekalahan argumentasi kemudian bertaubat, atau justru antum malah menyerang personal dengan menyebut mereka yang tak bisa antum kalahkan dengan sebutan sesat!!!

jauh sebelum teknologi seperti sekarang ada para 'ulama melakukan perjalanan yang jauh untuk mendapatkan sebuah ilmu meski ilmu yang didapatkan hanya sebuah hadits atau sebuah ayat, karena itu tidak pernah kita temukan para 'ulama salaf yang hafal Al-Qur'an dan Hadits berselisih, saling sikut dan saling serang merasa diri benar, karena ilmu itu untuk diamalkan bukan untuk dijadikan alat perdebatan!!!

para 'ulama menyadari karena sulitnya perjalanan yang dilakukan dan banyaknya pengorbanan yang dikeluarkan, jika ilmu yang didapat hanya dijadikan alat debat bukan untuk mencerdaskan umat hanya menjadi sesuatu yang sia-sia belaka, para 'ulama ketika telah mendapatkan sebuah ilmu mereka selalu berdzikir dan berfikir bagaimana caranya untuk menyampaikan kepada orang yang belum mengetahui tapi orang yang tak mengetahui dan tak menyukai bisa menerima dengan senang hati, karena itu para 'ulama selain mempunyai madzhab mereka juga mempunyai thariqah agar hati mereka selalu mengingat Allah,,,

bandingkan dengan kita yang dengan mudahnya mencari hadits di google, mencari riwayat di google, kita tidak perlu melakukan perjalanan tapi yang diperlukan hanya sebuah smartphone dan kuota untuk mendapatkan informasi yang ingin kita dapatkan, maka pantas saja karena kemudahan inilah kita bisa dengan mudah saling menyalahkan, kita lupa tugas kita bukan untuk menyalahkan tapi untuk menasihati dalam kebenaran, kita lupa bahwa kita ini seorang hamba Tuhan yang tidak bisa menentukan benar dan  salah yang sejati, kita malah menjadi tuhan baru yang gemar menyalahkan dan menganggap diri paling benar,,,

kita melupakan hal terpenting dari ilmu yakni adab, kita lupa bahwa orang yang lebih tua itu hidup lebih lama daripada kita, sehingga lupa bahwa mereka yang lebih tua sudah memiliki banyak ilmu dan amal yang lebih banyak daripada kita,,
kita lupa bahwa orang yang lebih muda lebih sedikit usianya, namun juga lebih sedikit dosanya, sehingga besar kemungkinan cahaya hidayah lebih mudah masuk ke dalam hati mereka daripada kedalam hati kita yang lebih tua dan lebih banyak dosanya,,,

'ulama salaf seperti Imam Syafi'i mengatakan tidak ada ilmu yang bisa terasa sampai kulit, daging dan membuat bulu merinding selain daripada ilmu adab, bahkan para 'ulama itu lebih dahulu mengkaji ilmu adab sebelum membahas ilmu yang lain, karena akan menjadi percuma jika banyak ilmu tapi tak beradab begitu juga sebaliknya beradab tapi tak berilmu,,,,

hadirkanlah Tuhan dalam setiap pembelajaran yang kita lakukan, ucapkan shalawat kepada Nabi agar kita diberi keberkahan dan kemudahan untuk memahami ilmu yang menjadikan kita bukan cuma berilmu tapi juga 'arif dalam menyampaikan ilmu, jangan hilangkan Tuhan dengan menjadikan diri sendiri tuhan dengan menuduh orang lain yang berbeda pemahaman,,,

selalu berdzikir dan hadirkan Allah dalam segala kegiatan agar kita sadar kita itu hanya seorang hamba, jika bisa sempatkan waktu untuk berkhalwat dengan Allah membaca amalan-amalan yang kita ketahui agar kita terus disinari oleh Nur Ilahi supaya tidak lupa diri dan berada dalam jalur kemanusiaan sebagai 'abid Tuhan Yang Maha Suci,,,

Wallaahua'lam
Billahi fi sabilil haq

Share:

Monday, November 26, 2018

hilangnya Tuhan di era canggihnya teknologi dan kemajuan (bag 1)

BismillahAlhamdulillah Washalatu Wasalaamu 'alaa Rasulillaah

saat ini kita ada di era yang canggih, dimana kita bisa bertatap muka tanpa beranjak dari tempat duduk kita, kita bisa terhubung dengan orang di berbagai belahan dunia, pun jika kita ingin bepergian tak akan memakan waktu lama sebagaimana nenek moyang yang harus mengarungi lautan jika ingin pergi ke tempat tujuan yang terpisah karena samudera,,,
akan tetapi canggihnya teknologi dan pesatnya kemajuan saat ini tidak diikuti oleh kecanggihan dan kemajuan pola berpikir manusia, yang akhirnya banyak diantara kita yang buta terhadap agama, taqlid terhadap budaya dan lenyapnya jiwa sosial diantara kebanyakan manusia,,,
Ustadz Abdul Somad berkata ini zamannya smartphone, tapi kenapa kebanyakan orang tidak berpikir smart, lihat saja kita kebanyakan orang saat ini lebih asyik berbicara via dunia maya daripada mengobrol di dunia nyata baik itu dengan teman ataupun keluarga,,,
lihat juga mereka yang menjadi budak game, dari pagi, siang dan malam, setiap ada kesempatan pasti mereka akan bermain dengan game tersebut, tak peduli mereka anak kecil dan remaja, bahkan dewasa dan orangtua pun seolah tak ingin ketinggalan dari sebuah permainan yang sebenarnya hanya untuk menghilangkan kejenuhan bukan untuk menjadi kebutuhan,,,
Habib Novel Alaydrus berkata di masa Nabi orang yang memasak selalu berbagi dengan tetangganya, tak peduli itu seagama ataupun beda, zaman sekarang juga mengikuti perintah Nabi, tapi sayangnya hanya foto saja yang dibagikan kepada sosial media, bukan berbagi kepada tetangga,,,
wake up friends, kecanggihan teknologi itu bukan untuk mengabaikan keluarga dan teman di dunia nyata, bukan juga untuk menghabiskan waktu dengan permainan yang hanya memuaskan kesenangan, bukan pula untuk pamer makanan dan tempat-tempat yang cozy dan keren untuk mendapatkan pujian,,,
kecanggihan teknologi itu harusnya menjadikan diri kita lebih mengenali siapa Sang Pencipta, siapa Tuhan yang sebenarnya, untuk apa kita diciptakan dan misi apa yang dibawa ketika kita dilahirkan,,,
tak sadarkah kita sudah kehilangan Tuhan dalam kehidupan di dunia yang hanya fatamorgana dan penuh kepalsuan?,,,
tak sadarkah kita sedang keluar dari rel kemanusiaan yang sangat jauh dari tujuan kita diciptakan?,,,
tak sadarkah juga kita ini hanya berangan-angan untuk masuk surga padahal sejatinya kita tidak mau memasuki surga?,,,
ketika kita menggunakan video call untuk berinteraksi dengan teman atau keluarga yang berbeda daerah atau negara apakah sempat terpikir oleh kita, bisakah kita menghadirkan Allah dalam shalat kita?, bisakah kita menghadirkan Allah dalam segala kegiatan kita?, bisakah kita menghadirkan Allah dalam imajinasi bahwa Allah itu Maha Mengetahui terhadap apa yang kita lakukan dan apa yang tersembunyi dalam hati!!!
ironisnya jangankan untuk menghadirkan Allah yang tak terlihat oleh mata, berinteraksi dengan sahabat dan keluarga pun saat ini sudah amat jarang dilakukan oleh kita, karena kita sibuk dengan menyebarkan berita-berita yang belum tentu benar faktanya, kita malah senang melakukan cacian, makian dan tuduhan kepada orang yang tidak sepaham dengan kita, dan tak disadari kita telah menghilangkan Tuhan dan menjadikan diri sendiri tuhan dengan melakukan perbuatan demikian,,,
sampai kapan kita mau seperti ini, sampai kapan kita lebih bodoh daripada smartphone?, sampai kapan kita mau dibodohi teknologi?, sampai kapan  kita dibuat buta oleh media?, sampai kapan mau menjadi kutu dari sebuah buku?, semua kembali pada diri kita masing-masing,,,
bukan tidak boleh kita mengikuti teknologi, menggunakan smartphone, membaca media dan buku, justru kita sebagai manusia harus menjadi pengendali semua yang ada dalam kehidupan, karena itulah fitrah kita diciptakan, kita itu harus berfikir tentang semua kemudahan akses dan teknologi saat ini bisa mengantar kita menuju tujuan kita sebenarnya yakni menjadi hamba Tuhan bukan memberhalakan Tuhan...
bersambung...
Share:

Wednesday, November 21, 2018

krisis ideologi

krisis ideologi

kekacauan terjadi bukan karena kurangnya orang pintar, bukan pula karena kurangnya materi, tapi semua kekacauan terjadi karena krisis ideologi,,,

kenapa bukan krisis akidah, karena akidah sudah satu paket termasuk dalam ideologi tersendiri yang jika benar akidahnya maka insya Allah akan benar juga sosialisme dan kebudayaannya,,,

namun lihatlah apa yang terjadi di sekeliling kita!, hanya beda jadi saling mencela, entah itu beda dalam politik yang mewakili kehidupan sosial, ada juga karena beda budaya jadi saling mencerca, yang paling miris saat ini adalah ketika beda golongan disebut sesat dan mengklaim merekalah yang benar,,

padahal yang mengetahui hakikat kebenaran mutlak hanya Allah Yang Maha Benar, kita para hamba dan pengikut Nabi hanya diperintahkan untuk melakukan apa yang kita ketahui dan jangan mencela mereka yang berbeda dengan kita, karena bagi orang beriman yang benar keimanannya dilarang untuk saling mencela suatu kaum, kaum itu mengklaim bahwa merekalah yang paling mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah tapi mereka lupa bahwa ada ayat Qur'an yang melarang saling mencela apalagi melabeli dengan kata sesat!!!

bagaimana orang-orang akan percaya dengan kebenaran Islam sementara dalam Islam sendiri masih ada saling tuduh menuduh dan merasa diri merekalah yang paling benar dan yang lain salah!!!

setiap tahun kehidupan umat Islam hanya sibuk untuk membahas masalah maulid, tahlil, tarawih sedangkan musuh-musuh Islam sedang menyiapkan agenda untuk menguasai dunia, sampai kapan kita mau di adu dombakan?,,

sebelum bicara bid'ah, sesat dan label kufur alangkah lebih baiknya pelajari setiap kata, pelajari dasar hukumnya, sudah berapa juz kita menghafal AlQur'an, sudah berapa ribu hadits kita kuasai, jangan hanya searching google tapi logika kita tidak dipakai untuk memahami kedalaman hukum yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah,,,

kembali ke masalah ideologi bahwa ada unsur lain selain agama yang berkaitan dengan erat dengan ideologi itu sendiri, yakni sosial dan budaya,,,

ayolah belajar lagi sejarah, Indonesia ini dulunya tak mempunyai agama karena kepercayaan nenek moyang adalah animisme dan dinamisme, kemudian datang hindu, budha, Islam, kristen dan lainnya,,,

tapi indahnya di negeri kita tercinta ini semua agama bisa berjalan dengan damai jika tanpa intervensi pihak lain yang ingin Indonesia ini hancur!!! ,,,

syaikh Hasyim Asy'ari menyebut bahwa bid'ah itu bukan masalah cabang ilmu apalagi budaya, bid'ah sesat itu adalah mereka yang memiliki pemahaman yang keluar dari Ahlus Sunnah,,

sementara banyak diantara kita yang mengaku Ahlus Sunnah tapi akhlak kita semua masih jauh dari Sunnah nabi, apa bisa kita mengaku Ahlus Sunnah?, sementara masih suka mencela, masih menuduh orang lain sesat padahal yang mereka lakukan bukan suatu ibadah tapi suatu budaya yang didalamnya dimasukkan amalan-amalan yang baik agar perbuatan menjadi bernilai ibadah!!!

Nabi tidak pernah mengajarkan kepada sahabat bahwa setiap shalat harus membaca surat Al-Ikhlas tapi karena kecintaan sahabat tersebut terhadap surat itu setiap shalat sahabat itu selalu mengamalkan amalan itu sampai dipanggil kenapa melakukan hal itu padahal Nabi tidak mengajarkan?, dan sahabat itu menjawab karena kecintaan dia terhadap surat itu dan Nabi tidak memvonis dia sesat tapi malah memberi dia 2 pahala!!!

di riwayat lain diceritakan ketika itu Mu'adz menjadi Imam Shalat Isya kemudian membaca seperti yang Nabi lakukan, tapi para ma'mum tidak kuat dan mengadukan hal ini kepada Nabi dan Mu'adz pun ditegur dan diingatkan bahwa harus disesuaikan bacaan shalat dengan kondisi ma'mum karena yang menjadi ma'mum tidak seperti Mu'adz yang berma'mum kepada Nabi,,,

dua kisah di atas adalah bentuk toleransi Nabi dalam menyikapi ilmu yang dianggap tidak sesuai dengan Sunnah dan yang mengikuti sunnah tapi akhlak Nabi sungguh mulia, karena beliau menunjukkan kebijaksanaan dalam keputusan siapa yang harus dibenarkan dan ditegur untuk kebaikan yang lebih maslahat untuk umat!!!

lalu apakah kita sudah melakukan toleransi seperti itu?, sepertinya tidak karena tingkat ilmu kita masih jauh dari Nabi, karena jika sudah tinggi keilmuannya saya rasa tidak akan terjadi konflik saling merasa benar dalam kehidupan ini,,

analoginya seperti ini jika kita sedang menaiki puncak gunung maka apa yang kita lihat akan berbeda dengan apa yang orang lain lihat, tapi ketika kita dipuncak gunung maka apa yang kita lihat akan sama dengan yang orang lain lihat, jadi selama proses pendakian janganlah berdebat dengan masalah itu-itu saja karena itu akan memperlambat proses pendakian menuju puncak, adapun jika saling sharing tentang ilmu itu lebih hebat untuk menambah wawasan,,,

jika anda berpikir apa korelasi antara ilmu dengan analogi naik gunung, maka saya jawab karena Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu, dan yang namanya tinggi dalam penciptaan NYA sudah tentu gunung, karena jika analoginya memakai langit tentu tidak akan bisa menurut logika manusia,,,

Share:

Tuesday, November 20, 2018

Esensi Maulid/Maulud

esensi maulid/maulud

dalam kajian ustadz Adi Hidayat beliau menyampaikan bahwa maulid itu memperingati hari kelahiran, tentunya yang lahir di bulan ini adalah Nabi sekaligus Rasul yang amat sangat mencintai kita yang semoga saja kita termasuk umat belum meskipun akhlak dan ibadah kita sangat jauh dari apa yang beliau ajarkan kepada kita,,,

adapun Maulud sendiri adalah memperingati nilai-nilai kebaikan yang dibawa ketika Nabi dilahirkan ke dunia ini sebagai pembawa Risalah terakhir, sebagai penyempurna ajaran dan akhlak yang sebelumnya diajarkan oleh para pendahulu beliau,,,

ada yang bertanya apakah Nabi memperingati hari kelahiran beliau, maka saya jawab ya 😊 , karena mereka ini orang yang harus berdasarkan dalil, silahkan di cek saja riwayat tentang puasa Senin-Kamis beliau, bukankah disana disebutkan bahwa Nabi berpuasa di hari Senin karena itu hari kelahiran beliau?, adapun kamis adalah hari dimana amalan dilaporkan,,,

tapi sayang mereka tidak kembali menanyakan karena mereka masih enggan untuk berdebat padahal mereka sendiri yang memulai menuduh bahwa maulid itu sesat!!!, entah karena mereka enggan berdebat atau tidak ingin kalah pendapat karena mereka hanya memahami dalil sebatas tekstual dan menerima apa yang para ustadznya sampaikan,,,

saya bukan santri ataupun seorang akademisi, saya juga bukan orang filsafat sebagaimana yang mereka tuduhkan, saya hanya hamba Allah yang ingin memaksimalkan apa yang Allah titipkan kepada saya berupa akal ini untuk melakukan sesuatu yang semoga Allah meridhai dan bermanfaat,,,

meminjam kata-kata salah satu teman saya yang seorang santri sekaligus akademisi bahwa dia tidak ingin berdebat dengan orang mengenai masalah keyakinan nya akan tetapi jika ada yang mengganggu keyakaninannya, jangan salahkan jika terjadi perdebatan,,,

ok kembali ke masalah maulid/maulud, meskipun beda pengertian tapi keduanya mempunyai nilai tersendiri, karena pada saat Nabi dilahirkan banyak keajaiban-keajaiban yang tentu anda semua mengetahuinya dari sejarah, jika belum silahkan searching saja supaya lebih lengkap karena jika ditulis disini kepanjangan 😀 ,,,

mengenai maulud atau muludan kata orang sunda mah yang katanya sesat, saya jadi teringat pada seorang ustadz yang tadinya viral dan terkenal sayangnya tidak bisa mengontrol emosi jadi ketiban sial, yang menurut ustadz itu bahwa Nabi pernah tersesat dan muludan itu katanya memperingati kesesatan,,,

hey come on bangun donk dari kesadaran kalian, ketika lahir saja api majusi yang menyala berabad-abad mati, raja abrahah dan pasukan tentaranya yang ingin menghancurkan Ka'bah dijadikan seperti ulat kepanasan!!! , lalu dengan beraninya yang memperingati muludan itu sesat!!!

astaghfirullah dulu deh biar agak kalem 😂 , saya mengetahui mereka yang mengatakan itu, saya juga tau sejarah mereka tapi saya tidak ingin membongkar kebobrokan tanpa bukti yang valid, karena dari tata bahasa saja sudah ketahuan mereka boneka yang sengaja dibuat untuk menghancurkan Islam dari dalam,,, wallahua'lam

saya menghargai setiap perbedaan mengenai masalah keyakinan entah itu dalam bentuk ibadah vertikal ataupun horizontal, hanya saja saya tidak bisa menerima ketika saudara seiman saya yang lain dituduh sesat!!!,

hampir setiap tahun isu ini muncul, seolah tidak pernah beres dan sepertinya tidak ada bahan lain untuk dijadikan isi ceramah ataupun bahan perdebatan, cuma sayangnya yang kebanyakan dibahas di setiap majelis adalah kehebatan Nabi, keistimewaan Nabi, sayangnya Nabi terhadap kita selaku umat akhir zaman yang dikhawatirkan beliau ketika masa pencabutan nyawa beliau 😢

padahal jika dibalikkan, sudahkah akhlak kita seperti Nabi?, sudahkah shalat kita sesuai sifat shalat Nabi?, sudahkah wajah kita tersenyum sebagimana yang diajarkan Nabi, dan sudahkah kita menyayangi Nabi dengan banyak membaca shalawat untuk beliau?, silakan jawab dengan hsti nurani kalian sendiri!

itulah yang harus sebenarnya dijadikan bahan untuk pencerahan, semoga bisa diamalkan dalam sisa waktu kehidupan yang menuju kematian, insya Allah jika kita benar-benar belajar tentang Sirah Nabawiyah dan bagaimana mulianya akhlak Nabi, sampai tingkat pemahaman yang mendalam dan pengamalan yang tak hanya tulisan dan ucapan tapi juga dipraktekkan sehingga menjadi barometer kehidupan dan kesuksesan sesuai ridha Allah Yang Maha Rahman bukan hanya kesuksesan berbentuk materi yang banyak membuat kita dengki,,,

Subhanallah wabihamdika asyhadu AnLaa Ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaihi
Billaahi taufiq wal hidayah

Ubaidillah
Asmar Faruq

Share:

Tuesday, May 23, 2017

Dunia anak-anak yang mulai hilang

Jika kalian pernah menonton animasi spr tsubasa, winspector, jiban, ksatria baja hitam, dll. Tentu kalian pernah melakuka permainan tradisional seperti (di daerah saya namanya gatrik, galasodor, boy-boyan, ucing jidar, engrang)  yang saat ini sudah jarang ditemukan bahkan bisa dikatakan hampir punah karena anak sekarang lebih senang bermain dengan gadgetnya, lebih senang bermain di warnet game online daripada tertawa bahagia ketika memainkan permainan tradisional yang tadi saya sebutkan.

Saya tidak menyalahkan majunya teknologi dan hadirnya gadget, karena semua itu sudah merupakan kenyataan yang harus diterima dan dipergunakan sebaik mungkin untuk kemudahan kita dalam beraktivitas, namun fakta kenyataan ternyata tidak demikian, kebanyakan anak-anak kehilangan jati dirinya sebagai orang yang polos, yang hanya memikirkan matematika adalah persoalan tersulit mereka, tak ada tangisan kecuali tertinggal film kesayangan yang tadi saya sebutkan di awal.

Namun saat ini ternyata situasi terasa lebih menyulitkan, dimana anak sd saja sudah pacaran dengan panggilan ayah bunda, mungkin juga karena sudah melakukan seperti yang ayah bunda mereka lakukan, sehingga ketika putus, betapa bapernya anak sd layaknya yang sudah dewasa, padahal sewaktu saya sd suka sama seseorang iya cuma hanya sebatas itu, karena berdekatan pun malah keluar keringat dingin, ya namanya juga cinta monyet, kalopun putus masih bisa tertawa ketika main bareng dengan teman-teman .

Anak jelas tidak bisa disalahkan atas kehilangan masa kecil yang seharusnya bahagia dengan dunianya, karena anak itu ibarat kertas putih kosong yang bisa diwarnai, digambar ataupun ditulis dengan apapun, entah itu hal yang baik ataupun hal yang buruk, semua itu kembali kepada orangtua khususnya ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anak.

Kesimpulan dan solusi untuk masalah anak-anak yang kehilangan dunianya adalah perhatian dari orangtua sendiri, seberapa bijak kah mereka memberikan gadget, mengontrol gadgetnya, mengontrol apa yang ditonton, karena buat anak apa yang mereka lihat itulah yang mereka pelajari. Karena itu wahai para ayah, janganlah engkau terlalu sibuk dengan pekerjaan meskipun itu untuk masa depan buah hati kesayangan, karena materi bukanlah segalanya meski semua kebutuhan harus dibeli dengan materi, luangkanlah waktu untuk mendengarkan cerita anak-anak anda, untuk menemani mereka makan. Wahai para Ibu jangan juga engkau sibuk dengan karir, karena wanita yang sukses itu adalah wanita yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, bagaimana bisa engkau mendidik mereka dengan maksimal ketika sebagian waktu untuk anakmu tersita oleh pekerjaanmu?. Engkau itu tulang rusuk untuk suamimu, bukan tulang punggung untuk anakmu. Biarlah suamimu yang memenuhi kebutuhan untukmu juga anakmu, tugasmu mendidik anakmu agar menjadi shaleh/shalehah, bukankah itu sebaik-baik aset untuk masa depan?
Jika merasa kurang dalam masalah harta, lihatlah ke bawah jangan ke atas, karena sifat harta itu berapa banyak pun akan habis jika mengikuti kemauan dan gaya hidup, namun sekecil apapun harta itu akan cukup jika dipakai untuk bertahan hidup. Bukankah Allaah yang menjamin rejeki atas semua makhluknya, do'a istri akan menjadi kekuatan terbesar suami dalam mengumpulkan bekal untuk keluarganya yang dicintai.

Jadi mulai saat ini perhatikanlah buah hati, jangan juga terlarut dalam gemerlapnya dunia teknologi, jangan terlalu sibuk mengejar materi karena menemani anak bermain juga tak kalah penting. Tidak kah iri dengan mereka yang bisa menjadikan anak-anaknya sebagai hafidz dan hafidzah?, bukankah waktu mereka sama dengan kita yakni 24 jam bukan?, semua tergantung pada anda wahai ayah dan ibu, putra-putrimu adalah amanah, bisa menjadi aset namun mereka juga bisa menyeret dalam dunia yang tak pernah terbayangkan.

Billaahi fi sabilil haq
Share:

Sunday, January 3, 2016

apa itu agama?


Baru mulai nulis lagi, ada yang bahas tentang agama, ya sudahlah kita bahas ini saja,, toh udah lama juga saya ga nulis tentang hal ini,, 
Sebuah twit dari seorang mentor romansa sedikit mencerahkan tapi juga mencegangkan, dan yang membuat saya tercengang bahwa katanya mereka yang beragama yang diakui negara sekarang, hanyalah budak dari orde baru, yang dipaksa harus memilih salah satu agama yakni Islam, Kristen, Hindu atau juga Budha,,
Saya sendiri membalasnya, saya rasa tidak, karena bagi saya sendiri saya memilih Islam sebagai keyakinan saya saat ini, karena saya mempelajarinya lagi, dan saya juga mendapatkan pengalaman spiritual yang dengan itu cukup untuk saya menyatakan diri sebagai seorang muslim,,
Kemudian ada twit balasan yang mengatakan udah berapa tahun saya belajar, dan udah berapa agama yang saya pelajari, saya cuma menjawab saya tidak mempelajari semua agama karena saya lebih memilih untuk mendalami satu agama yang dibawa oleh Nabi terakhir, karena agama inilah yang menjadi penyempurna agama yang sebelumnya,,
Kenapa saya katakan penyempurna, karena jika dilihat kembali pada setiap agama, ada satu atau dua kemiripan yang ada pada agama yang sekarang saya pegang, ditambah lagi dengan dalil dalam AlQur'an sehingga makin mantap iman saya untuk mempelajari agama ini,,
Kita ambil contoh, agama budha dan hindu yang pada awalnya mengajarkan untuk berbudi pekerti yang baik, jelas ini ada pada agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallaahu 'alaihi Wasalam yang tidak diragukan lagi kebaikan budi pekerti beliau, entah itu kepada lawan ataupun kawan,,
Kemudian Kristen yang pada dasarnya mengajarkan umatnya untuk berkasih sayang, ternyata ada juga dalam Islam, bahkan para muslim menjadikan sebuah do'a dengan ucapan Bismillaahirrahmaanirrahiim yang artinya dengan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan dalam keyakinan saya pribadi jika Tuhan seorang Maha Pengasih dan juga Maha Penyayang, maka sudah sepantasnya sebagai makhluk ciptaan kita harus menjadi makhluk yang harus saling mengasihi dan juga saling menyayangi,,
Jadi apa itu agama?, menurut saya agama adalah sebuah keyakinan tentang kehidupan, darimana asal kehidupan, siapa yang memberi kehidupan, harus seperti apa kita hidup, agar hidup kita di dunia tidak merugikan kehidupan orang lain, dan juga kehidupan lingkungan, dan jika semua berjalan sebagaimana yang Nabi contohkan, bukan tidak mungkin kita semua bisa bertemu dengan beliau Shalallaahu 'alaihi Wasalam di kehidupan lain yang akan datang,,
Wallaahu A'lam
Share:

Thursday, October 16, 2014

Negaraku sayang, negaraku malang


negaraku sayang, negaraku malang
aku bahagia hidup di negara yang kata orang tanah surga
namun aku juga merana karena sebagian besar masyarakat kekurangan harta
padahal tak selayaknya negara yang memiliki sumber daya alam yang kaya
masyarakatnya hanya diberikan sebagian kecil dari kekayaan negaranya..
aku heran terhadap negara yang mayoritas penduduknya Islam
tapi entah kenapa tak sedikit orang orang menyimpan dendam
bukannya saling berbagi, saling mengasihi diantara sesama
yang ada hanyalah saling menginjak sesamanya
untuk mendapatkan apa yang diinginkannya
yang tidak lain tidak bukan adalah harta tahta wanita
Sampai kapan negaraku akan seperti ini
ada yang bilang negara seperti ini karena menghapuskan syariat Islam
mungkin benar adanya, karena pada dasarnya adalah ketuhanan
yang dalam Islam sendiri sering disebut dengan Tauhid
sebagian orang juga mengatakan salahnya sistem pemerintahan
bukanlah demokrasi dan republik yang seharusnya digunakan
tapi sistem kekhalifahan yang harus diterapkan untuk keadilan
mungkin benar adanya, karena disadari atau tidak
mereka yang awalnya memusuhi Islam justru menggunkan sistem yang bijak
yakni sistem kekhalifahan yang menaungi negara yang banyak
jika mereka saja mau menggunakan dan berhasil
lalu kenapa kita yang mayoritas Islam tidak ingin berhasil
alasannya karena malas untuk merubah keadaan
padahal jika mau mencoba pasti akan bisa
sekalipun belum terbiasa nanti juga akan bisa
karena bisa itu karena terbiasa
dan tidak akan menjadi kebiasaan jika tidak mencoba
seharusnya dengan negara yang mayoritas penduduknya Islam
dengan ditambah kekayaan yang ada pada sumber daya alam
negaraku bisa menjadi negara yang besar dan disegani
bukan menjadi negara seperti ini yang bukan tuan rumah di negeri sendiri
Share:

Tuesday, November 26, 2013

Pelajaran baruku

بسم الله الرحمن الرحيم
Akhirnya hal yang selama ini aku tanyakan dalam pikiranku terjawab sudah,,
Pertanyaan tentang kenapa keyakinanku yang dulu begitu gagah,,
Kini hanya tinggal namanya saja dan terpecah belah,,
Entah apa yang ada di dalam benak dan pikiran orang-orang yang memiliki ilmu keyakinan,,
Mereka mungkin merasa bahwa dirinya sudah cukup dengan pengabdian kepadaNYA,,
Mereka mungkin merasa sudah cukup dengan membantu sesama dengan sedekahnya,,
Tapi mereka tidak memperhatikan keadaan orang yang di sekelilingnya,,
Orang yang senantiasa membantu mereka, tapi tidak diberikan apresiasi yang sesuai dengan tenaganya,,
Mereka mungkin sudah merasa membantu para pekerjanya dengan memberikan mereka pekerjaan,,
Tapi apakah mereka sadar hanya membayar sedikit dari keringat yang mereka keluarkan,,
Disaat mereka bersenang-senang menikmati keuntungan, adakah teringat jasa orang yang membantu mereka,,
Dari sini aku sadar, mungkin ilmu mereka tentang keyakinannya tentang Islam,,
Hanya dipakai untuk beribadah saja belum digunakan dalam kehidupan akhlaknya,,
Pantas tanda positif dibentuk oleh dua garis yang berbeda arahnya,,
Yang satu vertikal dan yang satu horizontal,,
Sepertinya Sang Pencipta mengajarkan dari ilmu perhitungan,,
Bahwa kehidupan yang positif alias yg baik dapat diwujudkan,,
Dengan arah ke atas simbol pengabdian kepadaNYa,,
Dan arah ke samping yang merupakan buah dari ibadah kepadaNYA,,
Yakni berbuat baik, berakhlak baik terhadap sesamanya,,
Kini pertanyaan kenapa Islam terpecah terjawab sudah,,
Karena pemahaman tentang Islam hanya dipakah untuk ibadah,,
Belum terpakai untuk berakhlak baik kepada orang yang bekerja lelah,,
Padahal Nabi begitu mencintai orang orang yang tak berharta berlimpah,,
Bertolak belakang dengan orang yang mengaku umatnya tapi tidak meneladaninya,,
Share: