Showing posts with label teknologi. Show all posts
Showing posts with label teknologi. Show all posts

Sunday, December 9, 2018

hilangnya Tuhan di era canggihnya teknologi dan kemajuan zaman part 2

Bismillah Alhamdulillah Washalatu Wasalaamu'alaa Rasulillaah

Sebelumnya saya mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan pemaparan yang akan saya sampaikan, bukan saya benci dengan hal yang sekelompok atau segolongan orang Islam yang merasa diri mereka benar sedangkan orang lain salah,,,

saya ingatkan bahwa kita semua itu rugi kecuali orang yang beriman dan beramal shaleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, sampai sini dulu saya garis bawahi mengenai saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, bukan untuk saling mengkritisi untuk menjatuhkan yang berujung saling menyalahkan!!!

hei kita itu diciptakan sebagai 'abid alias seorang hamba bukan untuk menjadi tuhan yang menuduh antum yang benar dan mereka yang salah, jangan kalah dengan Smartphone Android antum yang bisa menampilkan informasi apa saja tanpa didahului prasangka dan rasa tidak suka, karena sekalipun berasal dari Qur'an dan Sunnah jika kalian tidak suka pasti antum akan mencari pembenaran untuk mengelak!!!

harusnya antum semua pelajari dulu sejarah tentang jalur pemahaman yang antum pakai, jangan belajar yang positifnya saja tapi belajar yang negatifnya juga dan sisanya antum sendiri yang menentukan apakah akan ikut faham ini atau tidak, antum semua itu baru dalam tahap hijrah, dan ketika antum mengetahui hal itu benar, apa pantas antum merasa menjadi yang paling benar?, pantaskah orang yang masih belajar menyalahkan orang yang sudah lama belajar?,,,

saya bicara seperti ini karena saya pernah menjadi seperti antum semua, kita bisa mencomot Hadits 2 dari google dengan mudah untuk menguatkan argumentasi tapi ketika kalah berkilah dengan perdebatan dibenci, padahal antum sendiri yang memancing perdebatan dengan membid'ahkan tahlilan, mauludan qunut dsb,,,

akal kita dipaksa untuk percaya tentang bid'ah yang dilakukan oleh para ahlus sunnah padahal antum sendiri jarang melakukan amalan Sunnah yang diriwayatkan Hadits yang shahih, contoh ketika malam Jum'at Ahlus Sunnah membaca Yasin, apa dimalam yang sama antum membaca Surat Al-Kahfi?, atau muraja'ah hafalan antum?, atau antum hanya sibuk mencari orang-orang yang update tentang yasinan kemudian antum hadir untuk menjatuhkan mereka!!!
tapi apakah kita pernah menggunakan akal kita untuk memikirkan maksud sebuah dalil itu mengarahnya kemana, menurut kaidah ilmu bahasa arabnya bagaimana atau jika tidak bisa menurut tafsir bahasa Indonesia mengarahnya kemana, jangan menafsirkan ayat-ayat dengan pemahaman antum dan golongan antum sehingga menjadikan perdebatan bahkan timbul kebencian!!!

mungkin jika orang awam yang ikut-ikutan akan bisa mengikuti antum, tapi ketika antum bertemu dengan orang yang ilmunya diatas antum, apakah akal antum dan hati antum akan menerima kekalahan argumentasi kemudian bertaubat, atau justru antum malah menyerang personal dengan menyebut mereka yang tak bisa antum kalahkan dengan sebutan sesat!!!

jauh sebelum teknologi seperti sekarang ada para 'ulama melakukan perjalanan yang jauh untuk mendapatkan sebuah ilmu meski ilmu yang didapatkan hanya sebuah hadits atau sebuah ayat, karena itu tidak pernah kita temukan para 'ulama salaf yang hafal Al-Qur'an dan Hadits berselisih, saling sikut dan saling serang merasa diri benar, karena ilmu itu untuk diamalkan bukan untuk dijadikan alat perdebatan!!!

para 'ulama menyadari karena sulitnya perjalanan yang dilakukan dan banyaknya pengorbanan yang dikeluarkan, jika ilmu yang didapat hanya dijadikan alat debat bukan untuk mencerdaskan umat hanya menjadi sesuatu yang sia-sia belaka, para 'ulama ketika telah mendapatkan sebuah ilmu mereka selalu berdzikir dan berfikir bagaimana caranya untuk menyampaikan kepada orang yang belum mengetahui tapi orang yang tak mengetahui dan tak menyukai bisa menerima dengan senang hati, karena itu para 'ulama selain mempunyai madzhab mereka juga mempunyai thariqah agar hati mereka selalu mengingat Allah,,,

bandingkan dengan kita yang dengan mudahnya mencari hadits di google, mencari riwayat di google, kita tidak perlu melakukan perjalanan tapi yang diperlukan hanya sebuah smartphone dan kuota untuk mendapatkan informasi yang ingin kita dapatkan, maka pantas saja karena kemudahan inilah kita bisa dengan mudah saling menyalahkan, kita lupa tugas kita bukan untuk menyalahkan tapi untuk menasihati dalam kebenaran, kita lupa bahwa kita ini seorang hamba Tuhan yang tidak bisa menentukan benar dan  salah yang sejati, kita malah menjadi tuhan baru yang gemar menyalahkan dan menganggap diri paling benar,,,

kita melupakan hal terpenting dari ilmu yakni adab, kita lupa bahwa orang yang lebih tua itu hidup lebih lama daripada kita, sehingga lupa bahwa mereka yang lebih tua sudah memiliki banyak ilmu dan amal yang lebih banyak daripada kita,,
kita lupa bahwa orang yang lebih muda lebih sedikit usianya, namun juga lebih sedikit dosanya, sehingga besar kemungkinan cahaya hidayah lebih mudah masuk ke dalam hati mereka daripada kedalam hati kita yang lebih tua dan lebih banyak dosanya,,,

'ulama salaf seperti Imam Syafi'i mengatakan tidak ada ilmu yang bisa terasa sampai kulit, daging dan membuat bulu merinding selain daripada ilmu adab, bahkan para 'ulama itu lebih dahulu mengkaji ilmu adab sebelum membahas ilmu yang lain, karena akan menjadi percuma jika banyak ilmu tapi tak beradab begitu juga sebaliknya beradab tapi tak berilmu,,,,

hadirkanlah Tuhan dalam setiap pembelajaran yang kita lakukan, ucapkan shalawat kepada Nabi agar kita diberi keberkahan dan kemudahan untuk memahami ilmu yang menjadikan kita bukan cuma berilmu tapi juga 'arif dalam menyampaikan ilmu, jangan hilangkan Tuhan dengan menjadikan diri sendiri tuhan dengan menuduh orang lain yang berbeda pemahaman,,,

selalu berdzikir dan hadirkan Allah dalam segala kegiatan agar kita sadar kita itu hanya seorang hamba, jika bisa sempatkan waktu untuk berkhalwat dengan Allah membaca amalan-amalan yang kita ketahui agar kita terus disinari oleh Nur Ilahi supaya tidak lupa diri dan berada dalam jalur kemanusiaan sebagai 'abid Tuhan Yang Maha Suci,,,

Wallaahua'lam
Billahi fi sabilil haq

Share:

Monday, November 26, 2018

hilangnya Tuhan di era canggihnya teknologi dan kemajuan (bag 1)

BismillahAlhamdulillah Washalatu Wasalaamu 'alaa Rasulillaah

saat ini kita ada di era yang canggih, dimana kita bisa bertatap muka tanpa beranjak dari tempat duduk kita, kita bisa terhubung dengan orang di berbagai belahan dunia, pun jika kita ingin bepergian tak akan memakan waktu lama sebagaimana nenek moyang yang harus mengarungi lautan jika ingin pergi ke tempat tujuan yang terpisah karena samudera,,,
akan tetapi canggihnya teknologi dan pesatnya kemajuan saat ini tidak diikuti oleh kecanggihan dan kemajuan pola berpikir manusia, yang akhirnya banyak diantara kita yang buta terhadap agama, taqlid terhadap budaya dan lenyapnya jiwa sosial diantara kebanyakan manusia,,,
Ustadz Abdul Somad berkata ini zamannya smartphone, tapi kenapa kebanyakan orang tidak berpikir smart, lihat saja kita kebanyakan orang saat ini lebih asyik berbicara via dunia maya daripada mengobrol di dunia nyata baik itu dengan teman ataupun keluarga,,,
lihat juga mereka yang menjadi budak game, dari pagi, siang dan malam, setiap ada kesempatan pasti mereka akan bermain dengan game tersebut, tak peduli mereka anak kecil dan remaja, bahkan dewasa dan orangtua pun seolah tak ingin ketinggalan dari sebuah permainan yang sebenarnya hanya untuk menghilangkan kejenuhan bukan untuk menjadi kebutuhan,,,
Habib Novel Alaydrus berkata di masa Nabi orang yang memasak selalu berbagi dengan tetangganya, tak peduli itu seagama ataupun beda, zaman sekarang juga mengikuti perintah Nabi, tapi sayangnya hanya foto saja yang dibagikan kepada sosial media, bukan berbagi kepada tetangga,,,
wake up friends, kecanggihan teknologi itu bukan untuk mengabaikan keluarga dan teman di dunia nyata, bukan juga untuk menghabiskan waktu dengan permainan yang hanya memuaskan kesenangan, bukan pula untuk pamer makanan dan tempat-tempat yang cozy dan keren untuk mendapatkan pujian,,,
kecanggihan teknologi itu harusnya menjadikan diri kita lebih mengenali siapa Sang Pencipta, siapa Tuhan yang sebenarnya, untuk apa kita diciptakan dan misi apa yang dibawa ketika kita dilahirkan,,,
tak sadarkah kita sudah kehilangan Tuhan dalam kehidupan di dunia yang hanya fatamorgana dan penuh kepalsuan?,,,
tak sadarkah kita sedang keluar dari rel kemanusiaan yang sangat jauh dari tujuan kita diciptakan?,,,
tak sadarkah juga kita ini hanya berangan-angan untuk masuk surga padahal sejatinya kita tidak mau memasuki surga?,,,
ketika kita menggunakan video call untuk berinteraksi dengan teman atau keluarga yang berbeda daerah atau negara apakah sempat terpikir oleh kita, bisakah kita menghadirkan Allah dalam shalat kita?, bisakah kita menghadirkan Allah dalam segala kegiatan kita?, bisakah kita menghadirkan Allah dalam imajinasi bahwa Allah itu Maha Mengetahui terhadap apa yang kita lakukan dan apa yang tersembunyi dalam hati!!!
ironisnya jangankan untuk menghadirkan Allah yang tak terlihat oleh mata, berinteraksi dengan sahabat dan keluarga pun saat ini sudah amat jarang dilakukan oleh kita, karena kita sibuk dengan menyebarkan berita-berita yang belum tentu benar faktanya, kita malah senang melakukan cacian, makian dan tuduhan kepada orang yang tidak sepaham dengan kita, dan tak disadari kita telah menghilangkan Tuhan dan menjadikan diri sendiri tuhan dengan melakukan perbuatan demikian,,,
sampai kapan kita mau seperti ini, sampai kapan kita lebih bodoh daripada smartphone?, sampai kapan kita mau dibodohi teknologi?, sampai kapan  kita dibuat buta oleh media?, sampai kapan mau menjadi kutu dari sebuah buku?, semua kembali pada diri kita masing-masing,,,
bukan tidak boleh kita mengikuti teknologi, menggunakan smartphone, membaca media dan buku, justru kita sebagai manusia harus menjadi pengendali semua yang ada dalam kehidupan, karena itulah fitrah kita diciptakan, kita itu harus berfikir tentang semua kemudahan akses dan teknologi saat ini bisa mengantar kita menuju tujuan kita sebenarnya yakni menjadi hamba Tuhan bukan memberhalakan Tuhan...
bersambung...
Share: