1 atau 2
saat ini kata itu begitu viral dan amat begitu sensitif karena di tahun ini dunia politik Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan Presiden untuk periode berikutnya.
dikubu sebelah mereka begitu berkuasa dalam media elektronik ataupun media cetak, tapi di sosial media kubu yang lain amat mendominasi media ini dan menaikan elektabilitas sebagai lawan dari petahana.
sebisa mungkin saya akan bersikap netral sebagaimana perintah dari salah satu guru saya Habib Novel Alaydrus, dimana cukup saya saja yang mengetahui siapa yang akan saya pilih di 17 April nanti.
saya tidak perduli dengan orang yang mencela atau memaki karena hidup itu tidak akan bisa dipisahkan dari duasisi hal tersebut, sekalipun kita sudah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan namun dalam ajaran agama saya tidak boleh ada paksaan.
dan hal pemaksaan inilah yang menjadi riuhnya perang pendapat antara dua kubu yang pro petahana dan pro oposisi, dua kubu ini memaksakan pendapat mereka masing-masing agar mempercayai informasi yang mereka berikan, padahal sampai gajah masuk lubang semut pun kubu petahana akan menolak informasi yang dipaparkan oleh kubu oposisi.
keadaan ini terjadi bukan tanpa sebab, tapi harusnya jadi isyarat untuk kita semua kembali mengenali diri kita, mengenali untuk apa kita hidup yang dalam bahasa sufi lebih dikenal dengan kata ma'rifat
Tuan Syaikh Abdul Qodir Jilani mengibaratkan bahwa ma'rifat itu ibarat daun, dan daun sendiri adalah penghasil oksigen bagi kehidupan, dan tempat untuk berfotosintesis tumbuhan agar mereka mempunyai makanan.
sementara itu ahli sejarah Indonesia yang sekaligus dosen yakni Muhammad mengatakan hal yang hampir sama dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Syaikh yakni kondisi masyarakat kita sekarang seperti daun kering yang sulit untuk disatukan, tapi akan mudah untuk dibakar.
jika kita menarik benang merah diantara 2 analogi mengenai daun tadi, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kondisi masyarakat kita sekarang sudah lupa terhadap dirinya sendiri, lupa terhadap tujuan manusia diciptakan dan lupa terhadap Tuhan, sehingga tak heran banyak netizen yang menjadi tuhan-tuhan yang dengan gampang menuduh, memvonis tanpa informasi yang kredibel.
karena itu baraya semua, marilah kita sadari bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah, karena perbedaan itu sendiri adalah saling melengkapi seperti manusia yang diciptakan dengan 2 jenis yakni lelaki dan perempuan.
janganlah yang satu mencela yang lain, karena tabiat manusia itu akan membalas hal yang serupa kecuali orang yang diberi petunjuk oleh-Nya, alangkah lebih baiknya para netizen yang berbeda kubu saling menshare kebaikan-kebaikan.
jangan mendahului takdir Tuhan dengan mengatakan jika dia berkuasa akan seperti ini, ini dan ini, jangan takut terhadap masa depan, dan jangan pula bersedih untuk keadaan saat ini, itulah ciri orang beriman yang tertulis dalam Al-Qur'an.
kita ini bersaudara antara yang satu dengan yang lainnya, jika berbeda keyakinan kita masih saudara sebangsa, jika berbeda pilihan tak perlu dipersoalkan karena tugas kita hanya untuk memilih pilihan kita sendiri, bukan untuk memaksakan pilihan kita kepada orang lain
salam damai, cinta dan kasih sayang
Salamu'alaikum
0 Comments:
Post a Comment