Jika kalian pernah menonton animasi spr tsubasa, winspector, jiban, ksatria baja hitam, dll. Tentu kalian pernah melakuka permainan tradisional seperti (di daerah saya namanya gatrik, galasodor, boy-boyan, ucing jidar, engrang) yang saat ini sudah jarang ditemukan bahkan bisa dikatakan hampir punah karena anak sekarang lebih senang bermain dengan gadgetnya, lebih senang bermain di warnet game online daripada tertawa bahagia ketika memainkan permainan tradisional yang tadi saya sebutkan.
Saya tidak menyalahkan majunya teknologi dan hadirnya gadget, karena semua itu sudah merupakan kenyataan yang harus diterima dan dipergunakan sebaik mungkin untuk kemudahan kita dalam beraktivitas, namun fakta kenyataan ternyata tidak demikian, kebanyakan anak-anak kehilangan jati dirinya sebagai orang yang polos, yang hanya memikirkan matematika adalah persoalan tersulit mereka, tak ada tangisan kecuali tertinggal film kesayangan yang tadi saya sebutkan di awal.
Namun saat ini ternyata situasi terasa lebih menyulitkan, dimana anak sd saja sudah pacaran dengan panggilan ayah bunda, mungkin juga karena sudah melakukan seperti yang ayah bunda mereka lakukan, sehingga ketika putus, betapa bapernya anak sd layaknya yang sudah dewasa, padahal sewaktu saya sd suka sama seseorang iya cuma hanya sebatas itu, karena berdekatan pun malah keluar keringat dingin, ya namanya juga cinta monyet, kalopun putus masih bisa tertawa ketika main bareng dengan teman-teman .
Anak jelas tidak bisa disalahkan atas kehilangan masa kecil yang seharusnya bahagia dengan dunianya, karena anak itu ibarat kertas putih kosong yang bisa diwarnai, digambar ataupun ditulis dengan apapun, entah itu hal yang baik ataupun hal yang buruk, semua itu kembali kepada orangtua khususnya ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anak.
Kesimpulan dan solusi untuk masalah anak-anak yang kehilangan dunianya adalah perhatian dari orangtua sendiri, seberapa bijak kah mereka memberikan gadget, mengontrol gadgetnya, mengontrol apa yang ditonton, karena buat anak apa yang mereka lihat itulah yang mereka pelajari. Karena itu wahai para ayah, janganlah engkau terlalu sibuk dengan pekerjaan meskipun itu untuk masa depan buah hati kesayangan, karena materi bukanlah segalanya meski semua kebutuhan harus dibeli dengan materi, luangkanlah waktu untuk mendengarkan cerita anak-anak anda, untuk menemani mereka makan. Wahai para Ibu jangan juga engkau sibuk dengan karir, karena wanita yang sukses itu adalah wanita yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, bagaimana bisa engkau mendidik mereka dengan maksimal ketika sebagian waktu untuk anakmu tersita oleh pekerjaanmu?. Engkau itu tulang rusuk untuk suamimu, bukan tulang punggung untuk anakmu. Biarlah suamimu yang memenuhi kebutuhan untukmu juga anakmu, tugasmu mendidik anakmu agar menjadi shaleh/shalehah, bukankah itu sebaik-baik aset untuk masa depan?
Jika merasa kurang dalam masalah harta, lihatlah ke bawah jangan ke atas, karena sifat harta itu berapa banyak pun akan habis jika mengikuti kemauan dan gaya hidup, namun sekecil apapun harta itu akan cukup jika dipakai untuk bertahan hidup. Bukankah Allaah yang menjamin rejeki atas semua makhluknya, do'a istri akan menjadi kekuatan terbesar suami dalam mengumpulkan bekal untuk keluarganya yang dicintai.
Jadi mulai saat ini perhatikanlah buah hati, jangan juga terlarut dalam gemerlapnya dunia teknologi, jangan terlalu sibuk mengejar materi karena menemani anak bermain juga tak kalah penting. Tidak kah iri dengan mereka yang bisa menjadikan anak-anaknya sebagai hafidz dan hafidzah?, bukankah waktu mereka sama dengan kita yakni 24 jam bukan?, semua tergantung pada anda wahai ayah dan ibu, putra-putrimu adalah amanah, bisa menjadi aset namun mereka juga bisa menyeret dalam dunia yang tak pernah terbayangkan.
Billaahi fi sabilil haq

0 Comments:
Post a Comment