Wednesday, January 21, 2026

ketika harga piring lebih mahal daripada akal manusia

Kita memang wajib bersyukur dengan adanya program MBG in membawa angin segar untuk perekonomian masyarakat. menurut info yang saya dapat sih bisa mencapai 1,5jt - 2jt lapangan kerja yang tersedia untuk masyarakat. mulai  dari tenaga operasional sampai tenaga ahli semua mendapat berkah dari APBN berdasarkan aturan dari UMK. 


akan tetapi di sela-sela bersyukur tersebut, ada kenyataan yang masih menjadi PR besar untuk masalah pendidikan, karena disatu sisi para tenaga operasional maaf kita sebut (pencuci piring) saja bisa mendapatkan penghasilan yang bisa dikatakan lumayan layak, padahal tugasnya hanya memastikan alat makan bersih dan higienis. sementara penghasilan yang didapat oleh para guru honorer bahkan masih ada yang hanya cuma 300rb saja per bulan. ironi?, memang, tapi itulah fakta dan realita yang terjadi saat ini. 


disatu sisi kita bisa bersyukur karena anak-anak kita bisa mendapatkan makanan yang bergizi dan bisa dibilang kenyang, akan tetapi saya bingung sendiri harus gimana mengungkapkannya karena para guru sendiri harus memutar otaknya dikarenakan honor yang didapat dari hasil mengajarnya tidak mencukupi kebutuhan baik itu untuk dirinya ataupun untuk keluarganya jika sudah menikah atau membantu orangtuanya.


sepertinya krisis skala prioritas bukan cuma diranah media saja, dimana masyarakat lebih suka drama, gosip dan berita artis daripada informasi yang menambah wawasan, dan tentunya diperlukan kesadaran untuk semua orang bukan hanya 1 atau 2 orang yang memikirkan gimana generasi emas itu nanti ketika muridnya dikasih makanan bergizi sementara gurunya harus berpikir 1000x untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari. 

Share:

Wednesday, December 24, 2025

Banjir Air Mata di Aceh dan Sumatera, Banjir Sampah di Media Sosial: Di Mana Nurani Kita?

1.112 Korban Tewas, 176 orang Hilang jumlah korban banjir bandang Sumatera &
Aceh beberapa waktu lalu, sepertinya tak menjadi masalah buat mayoritas penduduk ini, mungkin karena merasa masih banyaknya penduduk negeri ini, atau perlahan tapi pasti kita dialihkan oleh drama pengalihan isu masalah selangkangan, yang sebenarnya dari dulu watak seorang pria ya begitu ujiannya, harta, tahta wanita. 

Kita lebih sibuk menghakimi satu orang yang gagal di ranah pribadinya, daripada menangisi ribuan nyawa yang hilang karena kegagalan kita menjaga alam, bukankah ini ironi?, atau prioritas kita sudah cacat karna sudah mulai hilangnya empati?

 Pesan Tersirat dari Bencana

Padahal awal kejadian setelah banjir bandang disana, Ustadz Adi Hidayat mengingatkan kita untuk bertaubat, dengan bahasa tersirat Beliau mungkin ingin menyampaikan bahwa negeri kita ini sudah terlalu banyak dosa.

Coba saja flashback ke belakang berapa kasus yang terjadi di daerah yang terjadi di daerah bencana tersebut sebelum air bah datang?, 

  • mulai dari Mahasiswa yatim piatu yang meregang nyawa hanya karena tidur di Mesjid.
  • Kasus pelecehan kepada mahasiswi juga kan oleh oknum yang tak bertanggung jawab

Hiburan di Atas Penderitaan
Alih-alih kita evaluasi diri dan bertaubat seperti yang disampaikan Ustadz Adi, ternyata drama selangkangan public figur jauh lebih "bergizi" untuk menjadi konsumsi akal. Padahal ini berbahaya, karena pada akhirnya bisa membuat otak mati dan hati hilang empati. Mayoritas kita lebih suka menonton keruntuhan moral orang lain daripada sibuk untuk memperbaiki diri.  

 "Gue belajar dari diskusi Ferry Irwandi & Om Ded, bahwa masalah bangsa ini bukan cuma soal banjir air, tapi banjir informasi sampah. Kita lebih pusing sama urusan selangkangan tokoh publik daripada nyawa saudara kita di Sumatera. Kita lebih emosi sama rasisme oknum (Resbob) tapi kita sendiri rasis sama waktu kita sendiri—habis buat hal yang nggak guna."

Tentang Rasisme dan Efek Jera 

Disatu sisi gue setuju juga sama diskusi mereka tapi di soal rasisme, gue punya sikap tegas: memang sudah sepantasnya orang-orang seperti Resbob ini dikasih efek jera. Kenapa?, supaya Indonesia yang terkenal gemah ripah loh jinawi ini tidak tercemar dan hancur hanya karena ulah segelintir orang (apalagi kalau benar itu anak koruptor) yang cuma pengen viral dengan cara kontroversi. Polanya basi: bikin masalah, dapet cuan dari viralitas, lalu dengan mudah bikin klarifikasi permohonan maaf.  

Klarifikasi tidak menyembuhkan luka rasisme, dan maaf tidak mengembalikan ribuan nyawa yang hanyut. Saatnya kita berhenti jadi penonton drama, berhenti jadi hakim untuk semua perkara, dan mulai kembali dengarkan hati nurani.

Share:

Thursday, October 17, 2024

Pentingnya memahami amanah dan kepantasan diri sebelum memiliki harta


Sudah nonton podcast curhat bang deni yang menghadirkan teh novi dan mas agus yang miss komunikasi tentang masalah uang donasi senilai 1,5M untuk pengobatan mas agus?, tentunya hal ini menjadi viral karena ternyata uang donasi yang dikumpulkan untuk pengobatan seseorang bisa mencapai milyaran rupiah, dan yang menjadi pro kontra disini adalah keputusan agus yang alih-alih menggunakan uang donasi itu untuk pengobatan supaya dia bisa sembuh, eh malah dibagi-bagi ke keluarganya dengan alasan ini itu.

Disini saya hanya ingin merangkum dan menyampaikan apa yang saya tangkap dari acara podcats bang deni yang menghadirkan teh novi yang sudah mempunyai yayasan dan kredibilitas karena menjadi yayasan yang menaungi odgj diantaranya, adapun orang yang diberikan donasi yang dikumpulkan langsung ke rekening pribadinya bernama agus.

Saya tidak ingin membela siapapun, karena apa yang disampaikan teh novi memang mempunyai landasan argumen yang kuat karena jika nanti dimintai pertanggung jawaban oleh KEMENSOS tentunya akan menjadi bumerang terhadap yayasan teh novi yang sudah dibangun selama ini untuk menjaga dan merawat odgj yang terlantar, jangan sampai terjadi kejadian lagi odgj memutilasi odgj lain karena cosplay menjadi hewan kurban dan penyembelih.

Adapun mas agus sendiri menurut pandangan saya jika itu menilai secara hati nurani memang pantas untuk berterima kasih kepada orang yang disebut wawa yang membantunya sejak awal kasus penyiraman air keras terjadi kepadanya, mengantarnya kesana-kesini walaupun hanya memakai bpjs, memang benar apa yang dibicarakan mang agus jika harus membayar perawat dan pengatar kesana-kesini mungkin akan lebih dari uang yang ditransfer ke rekening anaknya bu wawa ini.

Hanya saja yang menjadi permasalahan disini adalah teh novi tidak dilibatkan dan tidak ada komunikasi, padah teh novi ini yang notabene orang yang mengangkat cerita mas agus kemudian mendapat donasi 35 juta, lalu meminta bantuan kepada bang deni sumargo untuk podcast juga mendapatkan donasi 500 juta sampai terakhir nilai donasi itu menjadi diatas 1 milyar. Tentunya uang tersebut bukanlah uang kecil, apalagi ditengah mayoritas kondisi masyarakat saat ini dengan berkurangnya daya beli masyarakat, dan menjeritnya para pedagang kecil juga UKM.

Mas agus sendiri disini menurut saya bersikap labil, karena menurut penuturan teh novi sudah disampaikan bahwa donasi itu diperuntukkan untuk membantu pengobatan mas agus agar lekas pulih kembali kesehatan fisiknya terutama kesehatan matanya. Akan tetapi argumen mas agus sendiri mengatakan bahwa tidak mengetahui bahwa donasi itu untuk apa seharusnya, sehingga digunakanlah untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.

Adapun diframe pertama mas agus mengutarakan alasan dibalik kenapa mentransfer sejumlah uang kepada anak bu wawa sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu dan merawatanya selama ini dengan alasan berpikir jangka panjang. Akan tetapi di akhir podcast dia sendiri mengatakan karena sudah putus harapan dengan kesembuhannya, dia mengutarakan ingin kembali ke daerahnya dan meminta kembali uang yang telah diserahkan kepada yayasan teh novi.

Well, pro dan kontra yang membela teh novi dan mas agus pun ramai di kolom komentar, hanya saja disini kita bisa belajar tentang pentingnya memahami apa itu amanah, karena jika mas agus memahami amanah itu berat tentunya tidak akan sembarangan transfer sana-sini tanpa memberitahu orang yang sudah membantunya mendapatkan donasi yang nilainya milyaran itu. Apalagi dengan hanya menjual kesedihan karena tidak bisa melihat disebabkan disiram air keras yang kita sendiri tidak mengetahui motif sebenarnya pelaku yang melakukan perbuatan keji tersebut. Meskipun di salah satu komentar yang saya baca ada yang menulis mengatakan “tahu kan sekarang kenapa saya menyiram orang ini dengan air keras”?.

Beberapa waktu sebelum viralnya kasus ini, ada seorang tunanetra juga bahkan permanen, dia memiliki akun dinocaw, dimana di akun instagram yang sekarang terhubung dengan meta facebook, beliau ini membagikan kesehariannya yang suka bermain skateboard, berpenampilan seperti orang normal yang stylish pada umumnya sampai ditawari jadi model dan lain-lain. Jika saja sebelum kejadian disiramnya mas agus ini sudah mengetahui orang yang bernama kang dino ini, saya rasa mas agus ini akan lebih mengerti tentang beratnya amanah dan tidak hanya menjual kesedihan demi mendapatkan uang milyaran.

Dengan adanya kasus inipun tentunya ada hal baik yang bisa jadikan kita pelajaran, karena ada alasan kenapa Allah dan para malaikatnya memberikan kita rejeki sesuai dengan kebutuhan bukan dengan sesuai keinginan kita. Karena jika mental belum siap dan pantas menerima harta yang banyak akhirnya terjadi seperti kasus mas agus ini dengan donasinya.

Maka dari itu saya seringkali menuliskan tentang pentingnya bersedekah dengan melihat sekitar kita terlebih lagi tetangga dekat, karena biasanya orang yang membutuhkan itu enggan untuk meminta kepada sesama secara langsung, jarang mengeluh dan hidupnya selalu seperti terlihat baik-baik saja. Bukan saya tidak setuju dengan donasi atau semacamnya seperti ini, hanya saja menolong sesama yang ada di sekitar menurut saya sebagaimana yang dilakukan Nabi dan Para Sahabat juga melakukan demikian sebelum menolong saudara jauhnya.

Wallahu A’lam

Billahi Fii Sabilil Haq

Share:

Wednesday, October 16, 2024

Sudah seberapa jauh kita mengaku umat Nabi dan meneledani betapa mulianya akhlak Beliau


Tak ada kejadian yang kebetulan, karena semua yang terjadi di dunia ini merupakan takdir yang sudah ditentukan dan dituliskan jauh sebelum kita semua dilahirkan

 

Malam jum’at 10 Oktober saya terbangun dari tidur dikarenakan ada suara ceramah dari seseorang yang mengaku bukan ustadz, bukan kyai dan juga bukan ulama akan tetapi isi yang disampaikan dalam ceramah tersebut menjadi sebuah tamparan bagi saya khususnya, umumnya tentu untuk yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam.

 

Hari ini saya terbangun dari tidur dikarenakan ada suara ceramah dari seseorang yang mengaku bukan ustadz, bukan kyai dan juga bukan ulama akan tetapi isi yang disampaikan dalam ceramah tersebut menjadi sebuah tamparan bagi saya khususnya, umumnya tentu untuk yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam.

 

Saya terbangun di tengah-tengah bahkan mungkin di bagian utama mendekati akhir dari ceramah yang disampaikan oleh seorang yang saat ini di Jawa Barat jadwal undangan untuk setahun kedepan sudah penuh, beliau dikenal dengan jargon yang dipopulerkan juga oleh seorang konten kreator dengan kalimat “well”, ya beliau ini dipanggil dengan nama Nana Gerhana.

 

Adapun materi yang disampaikan dalam ceramah tersebut adalah tentang maulid Nabi, dimana dalam isi materi yang disampaikan mubaligh ini adalah tentang mulianya akhlak Baginda Nabi, yang jadi pertanyaan nya kita sering memperingati maulid Nabi akan tetapi sudah sejauh mana kita meneladani mulianya akhlak Beliau?

 

Pertama, ketika Nabi datang ke tha’if untuk menyampaikan risalah kebenaran, bukannya mendapatkan sambutan yang baik akan tetapi malah mendapatkan hujan batu, alias dilempari batu oleh masyarakat sampai Beliau berdarah, bahkan saking khawatirnya Beliau menahan darah itu menetes ke tanah karna dengan itu bisa saja membuat malaikat menimpakan azab kepada penduduk tha’if, tak cukup sampai disana kemuliaan baginda Nabi, alih-alih membalas lemparan batu dengan keburukan juga, Nabi malah mendo’akan semoga kelak anak keturunan di kota tersebut menjadi muslimin yang akan menjaga ajaran Islam kelak di masa yang akan datang. Tentunya sangat berat buat kita jika ingin meneladani hal ini karena jangankan dilempari batu, baru mendapat kritikan atau cibiran saja ketika menyampaikan kebenaran, yang ada kita malah (kukulutus) menyampaikan kekesalan dengan segala sumpah serapah yang diucapkan dengan menyebut kata-kata yang buruk padahal sejatinya kata buruk tersebut bisa kembali kepada diri kita.

 

Yang kedua, ketika beliau bertemu dengan seorang pengemis tua dan buta dari kaum yahudi yang kelaparan, tanpa pandang bulu Beliau menyuapi pengemis tersebut dengan makanan yang sudah dilembutkan terlebih dahulu, padahal disaat Nabi menyuapi, pengemis itu malah mengeluarkan kata-kata kasar dengan menyebut “Muhammad orang gila, tukang sihir dan lain sebagainya, Anda itu lebih mulia daripada orang yang bernama Muhammad itu” akan tetapi Baginda Nabi hanya tersenyum sembari terus meneruskan menyuapi pengemis itu sampai Beliau meninggal, sahabat Abu Bakar yang ingin meneruskan sunnah Nabi untuk memberi makan kepada pengemis tua dan buta itu kemudian datang dan menyuapinya, seketika pengemis itu mengetahui bahwa orang yang menyuapinya adalah orang yang berbeda, setelah menjelasakan penjelasan bahwa orang yang menyuapinya selama ini telah meninggal dunia dan diberitahukan bahwa orang yang menyuapinya itu adalah Nabi Muhammad itu sendiri, seketika yahudi tersebut mengucapkan syahadat dan menjadi mualaf. Sejatinya hal ini masih berat jika kita ingin meneladani akhlak mulia Nabi yang satu ini, karena alih-alih kita menyuapi dengan melembutkan makanan kemudian menyuapi orang yang mencaci maki kita, sedikit saja tersinggung jangankan untuk memberi makan, bahkan seringnya kita enggan untuk saling menyapa walaupun itu tetangga sekalipun.

 

Jika yang ketiga ini terlampau sulit, mari kita coba tela’ah semoga yang ketiga ini kita bisa meneledani akhlak Nabi yang ketiga ini. Ketika Nabi berangkat untuk pergi ke Mesjid setiap Beliau melewati rumah tetangganya dalam riwayat disebutkan diludahi, (riwayat lain mengatakan disiram dengan air kotor), selalu saja begitu ketika melewati rumahnya ini, jika ibu melihat hal seperti itu kepada suami apa yang akan dikatakan?, biasanya yang terjadi itu ibu mengompori suami untuk jangan kalah bahkan mungkin ngasih pisau untuk membela diri. Akan tetapi istri Nabi yang sangat dicintainya yakni Ibunda Khadijah mengatakan “mandi dan gantilah kembali pakaianmu suamiku”, sangat kontras bukan?,

Satu waktu orang yang suka meludahi Nabi itu jatuh sakit dan kabar tersebut sampai kepada Istri Nabi, kemudian Siti Khadijah sebagai istri sholehah yang memiliki suami yang berakhlak mulia memberitahu Nabi bahwa orang tersebut sakit, seketika itu Nabi langsung bergegas untuk menjenguk dan mendo’akan orang yang suka menyiram Nabi dengan air kotor, tentunya orang tersebut pada akhirnya malu dengan mulianya akhlak Nabi ini, dan langsung mengucapkan syahadat untuk menjadi muslim karena melihat betapa mulianya akhlak Nabi.

Dari ketiga contoh tersebut tentunya tak satupun dari kita yang menaladani begitu mulianya akhlak Baginda Nabi Muhammad. Padahal setiap tahun kita memperingati maulid Nabi hanya saja secara seremonial saja, tak lebih dari seperti kelompok anak kecil yang mengetahui Nabi Muhammad lahir 12 Rabiul 571 Masehi (tahun gajah) dengan Ayah bernama Abdullah dan Ibundanya bernama Aminah.

Padahal esensi dari maulid Nabi itu sendiri tak hanya mengetahui hal mendasar yang sudah diketahui anak kecil, akan tetapi harusnya kita meneladani Nabi sebagai guru yang sempurna karena tak hanya menyampaikan kebenaran secara lisan tapi mencontohkan langsung dalam perbuatan. 



Share: