Wednesday, November 21, 2018

krisis ideologi

krisis ideologi

kekacauan terjadi bukan karena kurangnya orang pintar, bukan pula karena kurangnya materi, tapi semua kekacauan terjadi karena krisis ideologi,,,

kenapa bukan krisis akidah, karena akidah sudah satu paket termasuk dalam ideologi tersendiri yang jika benar akidahnya maka insya Allah akan benar juga sosialisme dan kebudayaannya,,,

namun lihatlah apa yang terjadi di sekeliling kita!, hanya beda jadi saling mencela, entah itu beda dalam politik yang mewakili kehidupan sosial, ada juga karena beda budaya jadi saling mencerca, yang paling miris saat ini adalah ketika beda golongan disebut sesat dan mengklaim merekalah yang benar,,

padahal yang mengetahui hakikat kebenaran mutlak hanya Allah Yang Maha Benar, kita para hamba dan pengikut Nabi hanya diperintahkan untuk melakukan apa yang kita ketahui dan jangan mencela mereka yang berbeda dengan kita, karena bagi orang beriman yang benar keimanannya dilarang untuk saling mencela suatu kaum, kaum itu mengklaim bahwa merekalah yang paling mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah tapi mereka lupa bahwa ada ayat Qur'an yang melarang saling mencela apalagi melabeli dengan kata sesat!!!

bagaimana orang-orang akan percaya dengan kebenaran Islam sementara dalam Islam sendiri masih ada saling tuduh menuduh dan merasa diri merekalah yang paling benar dan yang lain salah!!!

setiap tahun kehidupan umat Islam hanya sibuk untuk membahas masalah maulid, tahlil, tarawih sedangkan musuh-musuh Islam sedang menyiapkan agenda untuk menguasai dunia, sampai kapan kita mau di adu dombakan?,,

sebelum bicara bid'ah, sesat dan label kufur alangkah lebih baiknya pelajari setiap kata, pelajari dasar hukumnya, sudah berapa juz kita menghafal AlQur'an, sudah berapa ribu hadits kita kuasai, jangan hanya searching google tapi logika kita tidak dipakai untuk memahami kedalaman hukum yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah,,,

kembali ke masalah ideologi bahwa ada unsur lain selain agama yang berkaitan dengan erat dengan ideologi itu sendiri, yakni sosial dan budaya,,,

ayolah belajar lagi sejarah, Indonesia ini dulunya tak mempunyai agama karena kepercayaan nenek moyang adalah animisme dan dinamisme, kemudian datang hindu, budha, Islam, kristen dan lainnya,,,

tapi indahnya di negeri kita tercinta ini semua agama bisa berjalan dengan damai jika tanpa intervensi pihak lain yang ingin Indonesia ini hancur!!! ,,,

syaikh Hasyim Asy'ari menyebut bahwa bid'ah itu bukan masalah cabang ilmu apalagi budaya, bid'ah sesat itu adalah mereka yang memiliki pemahaman yang keluar dari Ahlus Sunnah,,

sementara banyak diantara kita yang mengaku Ahlus Sunnah tapi akhlak kita semua masih jauh dari Sunnah nabi, apa bisa kita mengaku Ahlus Sunnah?, sementara masih suka mencela, masih menuduh orang lain sesat padahal yang mereka lakukan bukan suatu ibadah tapi suatu budaya yang didalamnya dimasukkan amalan-amalan yang baik agar perbuatan menjadi bernilai ibadah!!!

Nabi tidak pernah mengajarkan kepada sahabat bahwa setiap shalat harus membaca surat Al-Ikhlas tapi karena kecintaan sahabat tersebut terhadap surat itu setiap shalat sahabat itu selalu mengamalkan amalan itu sampai dipanggil kenapa melakukan hal itu padahal Nabi tidak mengajarkan?, dan sahabat itu menjawab karena kecintaan dia terhadap surat itu dan Nabi tidak memvonis dia sesat tapi malah memberi dia 2 pahala!!!

di riwayat lain diceritakan ketika itu Mu'adz menjadi Imam Shalat Isya kemudian membaca seperti yang Nabi lakukan, tapi para ma'mum tidak kuat dan mengadukan hal ini kepada Nabi dan Mu'adz pun ditegur dan diingatkan bahwa harus disesuaikan bacaan shalat dengan kondisi ma'mum karena yang menjadi ma'mum tidak seperti Mu'adz yang berma'mum kepada Nabi,,,

dua kisah di atas adalah bentuk toleransi Nabi dalam menyikapi ilmu yang dianggap tidak sesuai dengan Sunnah dan yang mengikuti sunnah tapi akhlak Nabi sungguh mulia, karena beliau menunjukkan kebijaksanaan dalam keputusan siapa yang harus dibenarkan dan ditegur untuk kebaikan yang lebih maslahat untuk umat!!!

lalu apakah kita sudah melakukan toleransi seperti itu?, sepertinya tidak karena tingkat ilmu kita masih jauh dari Nabi, karena jika sudah tinggi keilmuannya saya rasa tidak akan terjadi konflik saling merasa benar dalam kehidupan ini,,

analoginya seperti ini jika kita sedang menaiki puncak gunung maka apa yang kita lihat akan berbeda dengan apa yang orang lain lihat, tapi ketika kita dipuncak gunung maka apa yang kita lihat akan sama dengan yang orang lain lihat, jadi selama proses pendakian janganlah berdebat dengan masalah itu-itu saja karena itu akan memperlambat proses pendakian menuju puncak, adapun jika saling sharing tentang ilmu itu lebih hebat untuk menambah wawasan,,,

jika anda berpikir apa korelasi antara ilmu dengan analogi naik gunung, maka saya jawab karena Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu, dan yang namanya tinggi dalam penciptaan NYA sudah tentu gunung, karena jika analoginya memakai langit tentu tidak akan bisa menurut logika manusia,,,

Share:

0 Comments:

Post a Comment