Saturday, October 5, 2024

Musik, Al-Qur'an dan kehidupan

 

Beberapa waktu lalu, ramai diperbincangkan tentang sebuah Surat Al-Qur’an yang memiliki arti para penyair. Tentunya hal tersebut sudah bukan rahasia umum lagi menimbulkan pro dan kontra khususnya untuk orang-orang yang hanya menyimak potongan video saja, sehingga menimbulkan salah penafsiran.

Disinilah pentingnya menyimak sebuah penjelasan secara utuh, agar tidak membuat keadaan yang keruh menjadi kisruh bahkan bisa saja berakhir rusuh. Saya hanya seorang hamba Allah yang tidak begitu mengerti tentang bahasa arab, jadi saya hanya mengikuti apa yang ditulis oleh terjemahan dan penjelasan para ustadz saja.

Saya menulis ini bukan ingin membela Ustadz Adi Hidayat, karena tanpa pembelaan saya pun Beliau ini adalah orang yang mulia dengan segala ilmu dan hafalan yang masya Allah sekali, bahkan sekelas Felix Siauw saja protes karena benchmark yang dibuat Ustadz Adi melebihi kapasitas seusianya.

Saya menulis ini hanya ingin menyampaikan pentingnya kita memahami bahasa, sekalipun hanya terjemahannya saja. Tapi jika dimaknai dengan akal dan nurani yang baik tentunya semua itu bisa menjadi petunjuk dan hidayah, karena Al-Qur’an itu sendiri selain merupakan mu’jizat Nabi, tentunya itu adalah Kalamullah, yang berarti firman yang disampaikan, yang jika ada yang salah itu bukan Firman-Nya tapi yang salah memahaminya.

Tulisan itu salah satu bahasa paling natural, jika pembaca sedang sedih maka kalimat sederhana saja bisa membuat menangis, begitupun kalimat yang lain dan emosi seseorang semua itu kembali kepada pembacanya, maka dari itu saya menuliskan diatas jika kita memakai akal dan nurani kita, sangat kecil kemungkinan terjadi perbedaan pemahaman, kalaupun ada masih bisa di diskusikan bukan menjadi bahan perdebatan untuk menunjukan siapa yang salah dan siapa yang benar.

 

Saat ini sudah waktunya muslimin untuk bersatu, mohon kesampingkan ego dan kepentingan baik itu untuk individu ataupun golongan, karena sodara kita di Palestina saja masih membutuhkan bantuan. Hari ini sedang ramai dibicarakan tentang seorang artis dari negara luar yang menjadi korban kejahatan seniornya. Dan sudah seperti biasanya jika ada berita artis yang menjadi korban, apalagi artis luar negeri yang begitu terkenal tentunya menjadi magnet tersendiri untuk setiap orang mengangkat beritanya, entah itu supaya ikut terkenal atau pansos, ataupun mengaku bentuk empati kepada artis tersebut meskipun empati itu sendiri tidak terlalu berefek kepada si artis itu.

Sementara sodara kita yang kehilangan rumahnya, kehilangan tanah kelahirannya, kehilangan keluarganya, sepertinya empati itu seolah menjadi lupa. Meskipun memang saya sendiri tidak bisa melakukan apa-apa, tapi setidaknya janganlah fenomena berita yang dibuat besar oleh media melupakan sodara kita yang berjuang untuk mempertahankan tanah kelahirannya.

 

Kembali lagi ke pentingnya kita memahami suatu bahasa, entah itu bahasa arab, ataupun bahasa inggris yang dijadikan bahasa internasional, dalam konteks ini khususnya lagu kita perlu mengetahui artinya sebelum kita menyukai dan menghafal lirik-lirik lagu tersebut.

Karena bukan satu kali lagu-lagu yang memiliki arti kurang baik menjadi viral dan dinyanyikan oleh banyak generasi muda kita yang notabene negara kita itu mayoritas muslim. Bahkan lirik lagu yang berbahasa arab saja dibawakan di sebuah pesantren padahal lirik tersebut bukan shalawat ataupun do’a melainkan hanya tentang percintaan saja.

 

Adapun kenapa judul tulisan ini tentang musik, agama dan kehidupan, itu karena Al-Qur’an sendiri ketika dibaca memiliki irama yang enak didengar yang berarti itu adalah musik (tentunya bukan alat musik). Dan tentunya Al-Qur’an itu sendiri merupakan kitab pedoman untuk umat beragama Islam yang harusnya dijadikan sebagai petunjuk dan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dibaca saja ketika shalat fardhu.

 

Jika saja kalian begitu empatinya dan kasihan kepada Justin Bieber yang baru mengerti maksud lirik lagu yang dibawakannya, harusnya kita lebih berempati dan kasihan kepada diri kita sendiri ketika tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an.

 

Wallahu A’lam

Billahi Fii Sabilil Haq

Share:

0 Comments:

Post a Comment