Beberapa waktu lalu, ramai
diperbincangkan tentang sebuah Surat Al-Qur’an yang memiliki arti para penyair.
Tentunya hal tersebut sudah bukan rahasia umum lagi menimbulkan pro dan kontra
khususnya untuk orang-orang yang hanya menyimak potongan video saja, sehingga
menimbulkan salah penafsiran.
Disinilah pentingnya menyimak
sebuah penjelasan secara utuh, agar tidak membuat keadaan yang keruh menjadi
kisruh bahkan bisa saja berakhir rusuh. Saya hanya seorang hamba Allah yang
tidak begitu mengerti tentang bahasa arab, jadi saya hanya mengikuti apa yang
ditulis oleh terjemahan dan penjelasan para ustadz saja.
Saya menulis ini bukan ingin membela
Ustadz Adi Hidayat, karena tanpa pembelaan saya pun Beliau ini adalah orang
yang mulia dengan segala ilmu dan hafalan yang masya Allah sekali, bahkan
sekelas Felix Siauw saja protes karena benchmark yang dibuat Ustadz Adi melebihi
kapasitas seusianya.
Saya menulis ini hanya ingin menyampaikan
pentingnya kita memahami bahasa, sekalipun hanya terjemahannya saja. Tapi jika
dimaknai dengan akal dan nurani yang baik tentunya semua itu bisa menjadi
petunjuk dan hidayah, karena Al-Qur’an itu sendiri selain merupakan mu’jizat
Nabi, tentunya itu adalah Kalamullah, yang berarti firman yang disampaikan,
yang jika ada yang salah itu bukan Firman-Nya tapi yang salah memahaminya.
Tulisan itu salah satu bahasa
paling natural, jika pembaca sedang sedih maka kalimat sederhana saja bisa
membuat menangis, begitupun kalimat yang lain dan emosi seseorang semua itu kembali
kepada pembacanya, maka dari itu saya menuliskan diatas jika kita memakai akal
dan nurani kita, sangat kecil kemungkinan terjadi perbedaan pemahaman, kalaupun
ada masih bisa di diskusikan bukan menjadi bahan perdebatan untuk menunjukan
siapa yang salah dan siapa yang benar.
Saat ini sudah waktunya muslimin
untuk bersatu, mohon kesampingkan ego dan kepentingan baik itu untuk individu
ataupun golongan, karena sodara kita di Palestina saja masih membutuhkan
bantuan. Hari ini sedang ramai dibicarakan tentang seorang artis dari negara
luar yang menjadi korban kejahatan seniornya. Dan sudah seperti biasanya jika
ada berita artis yang menjadi korban, apalagi artis luar negeri yang begitu terkenal
tentunya menjadi magnet tersendiri untuk setiap orang mengangkat beritanya,
entah itu supaya ikut terkenal atau pansos, ataupun mengaku bentuk empati kepada
artis tersebut meskipun empati itu sendiri tidak terlalu berefek kepada si artis
itu.
Sementara sodara kita yang kehilangan
rumahnya, kehilangan tanah kelahirannya, kehilangan keluarganya, sepertinya
empati itu seolah menjadi lupa. Meskipun memang saya sendiri tidak bisa
melakukan apa-apa, tapi setidaknya janganlah fenomena berita yang dibuat besar
oleh media melupakan sodara kita yang berjuang untuk mempertahankan tanah kelahirannya.
Kembali lagi ke pentingnya kita
memahami suatu bahasa, entah itu bahasa arab, ataupun bahasa inggris yang dijadikan
bahasa internasional, dalam konteks ini khususnya lagu kita perlu mengetahui
artinya sebelum kita menyukai dan menghafal lirik-lirik lagu tersebut.
Karena bukan satu kali lagu-lagu
yang memiliki arti kurang baik menjadi viral dan dinyanyikan oleh banyak generasi
muda kita yang notabene negara kita itu mayoritas muslim. Bahkan lirik lagu
yang berbahasa arab saja dibawakan di sebuah pesantren padahal lirik tersebut
bukan shalawat ataupun do’a melainkan hanya tentang percintaan saja.
Adapun kenapa judul tulisan ini
tentang musik, agama dan kehidupan, itu karena Al-Qur’an sendiri ketika dibaca
memiliki irama yang enak didengar yang berarti itu adalah musik (tentunya bukan
alat musik). Dan tentunya Al-Qur’an itu sendiri merupakan kitab pedoman untuk
umat beragama Islam yang harusnya dijadikan sebagai petunjuk dan pedoman dalam
kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dibaca saja ketika shalat fardhu.
Jika saja kalian begitu empatinya
dan kasihan kepada Justin Bieber yang baru mengerti maksud lirik lagu yang
dibawakannya, harusnya kita lebih berempati dan kasihan kepada diri kita
sendiri ketika tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Allah yang tertulis
dalam Al-Qur’an.
Wallahu A’lam
Billahi Fii Sabilil Haq
0 Comments:
Post a Comment