Wednesday, October 16, 2024

Sudah seberapa jauh kita mengaku umat Nabi dan meneledani betapa mulianya akhlak Beliau


Tak ada kejadian yang kebetulan, karena semua yang terjadi di dunia ini merupakan takdir yang sudah ditentukan dan dituliskan jauh sebelum kita semua dilahirkan

 

Malam jum’at 10 Oktober saya terbangun dari tidur dikarenakan ada suara ceramah dari seseorang yang mengaku bukan ustadz, bukan kyai dan juga bukan ulama akan tetapi isi yang disampaikan dalam ceramah tersebut menjadi sebuah tamparan bagi saya khususnya, umumnya tentu untuk yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam.

 

Hari ini saya terbangun dari tidur dikarenakan ada suara ceramah dari seseorang yang mengaku bukan ustadz, bukan kyai dan juga bukan ulama akan tetapi isi yang disampaikan dalam ceramah tersebut menjadi sebuah tamparan bagi saya khususnya, umumnya tentu untuk yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam.

 

Saya terbangun di tengah-tengah bahkan mungkin di bagian utama mendekati akhir dari ceramah yang disampaikan oleh seorang yang saat ini di Jawa Barat jadwal undangan untuk setahun kedepan sudah penuh, beliau dikenal dengan jargon yang dipopulerkan juga oleh seorang konten kreator dengan kalimat “well”, ya beliau ini dipanggil dengan nama Nana Gerhana.

 

Adapun materi yang disampaikan dalam ceramah tersebut adalah tentang maulid Nabi, dimana dalam isi materi yang disampaikan mubaligh ini adalah tentang mulianya akhlak Baginda Nabi, yang jadi pertanyaan nya kita sering memperingati maulid Nabi akan tetapi sudah sejauh mana kita meneladani mulianya akhlak Beliau?

 

Pertama, ketika Nabi datang ke tha’if untuk menyampaikan risalah kebenaran, bukannya mendapatkan sambutan yang baik akan tetapi malah mendapatkan hujan batu, alias dilempari batu oleh masyarakat sampai Beliau berdarah, bahkan saking khawatirnya Beliau menahan darah itu menetes ke tanah karna dengan itu bisa saja membuat malaikat menimpakan azab kepada penduduk tha’if, tak cukup sampai disana kemuliaan baginda Nabi, alih-alih membalas lemparan batu dengan keburukan juga, Nabi malah mendo’akan semoga kelak anak keturunan di kota tersebut menjadi muslimin yang akan menjaga ajaran Islam kelak di masa yang akan datang. Tentunya sangat berat buat kita jika ingin meneladani hal ini karena jangankan dilempari batu, baru mendapat kritikan atau cibiran saja ketika menyampaikan kebenaran, yang ada kita malah (kukulutus) menyampaikan kekesalan dengan segala sumpah serapah yang diucapkan dengan menyebut kata-kata yang buruk padahal sejatinya kata buruk tersebut bisa kembali kepada diri kita.

 

Yang kedua, ketika beliau bertemu dengan seorang pengemis tua dan buta dari kaum yahudi yang kelaparan, tanpa pandang bulu Beliau menyuapi pengemis tersebut dengan makanan yang sudah dilembutkan terlebih dahulu, padahal disaat Nabi menyuapi, pengemis itu malah mengeluarkan kata-kata kasar dengan menyebut “Muhammad orang gila, tukang sihir dan lain sebagainya, Anda itu lebih mulia daripada orang yang bernama Muhammad itu” akan tetapi Baginda Nabi hanya tersenyum sembari terus meneruskan menyuapi pengemis itu sampai Beliau meninggal, sahabat Abu Bakar yang ingin meneruskan sunnah Nabi untuk memberi makan kepada pengemis tua dan buta itu kemudian datang dan menyuapinya, seketika pengemis itu mengetahui bahwa orang yang menyuapinya adalah orang yang berbeda, setelah menjelasakan penjelasan bahwa orang yang menyuapinya selama ini telah meninggal dunia dan diberitahukan bahwa orang yang menyuapinya itu adalah Nabi Muhammad itu sendiri, seketika yahudi tersebut mengucapkan syahadat dan menjadi mualaf. Sejatinya hal ini masih berat jika kita ingin meneladani akhlak mulia Nabi yang satu ini, karena alih-alih kita menyuapi dengan melembutkan makanan kemudian menyuapi orang yang mencaci maki kita, sedikit saja tersinggung jangankan untuk memberi makan, bahkan seringnya kita enggan untuk saling menyapa walaupun itu tetangga sekalipun.

 

Jika yang ketiga ini terlampau sulit, mari kita coba tela’ah semoga yang ketiga ini kita bisa meneledani akhlak Nabi yang ketiga ini. Ketika Nabi berangkat untuk pergi ke Mesjid setiap Beliau melewati rumah tetangganya dalam riwayat disebutkan diludahi, (riwayat lain mengatakan disiram dengan air kotor), selalu saja begitu ketika melewati rumahnya ini, jika ibu melihat hal seperti itu kepada suami apa yang akan dikatakan?, biasanya yang terjadi itu ibu mengompori suami untuk jangan kalah bahkan mungkin ngasih pisau untuk membela diri. Akan tetapi istri Nabi yang sangat dicintainya yakni Ibunda Khadijah mengatakan “mandi dan gantilah kembali pakaianmu suamiku”, sangat kontras bukan?,

Satu waktu orang yang suka meludahi Nabi itu jatuh sakit dan kabar tersebut sampai kepada Istri Nabi, kemudian Siti Khadijah sebagai istri sholehah yang memiliki suami yang berakhlak mulia memberitahu Nabi bahwa orang tersebut sakit, seketika itu Nabi langsung bergegas untuk menjenguk dan mendo’akan orang yang suka menyiram Nabi dengan air kotor, tentunya orang tersebut pada akhirnya malu dengan mulianya akhlak Nabi ini, dan langsung mengucapkan syahadat untuk menjadi muslim karena melihat betapa mulianya akhlak Nabi.

Dari ketiga contoh tersebut tentunya tak satupun dari kita yang menaladani begitu mulianya akhlak Baginda Nabi Muhammad. Padahal setiap tahun kita memperingati maulid Nabi hanya saja secara seremonial saja, tak lebih dari seperti kelompok anak kecil yang mengetahui Nabi Muhammad lahir 12 Rabiul 571 Masehi (tahun gajah) dengan Ayah bernama Abdullah dan Ibundanya bernama Aminah.

Padahal esensi dari maulid Nabi itu sendiri tak hanya mengetahui hal mendasar yang sudah diketahui anak kecil, akan tetapi harusnya kita meneladani Nabi sebagai guru yang sempurna karena tak hanya menyampaikan kebenaran secara lisan tapi mencontohkan langsung dalam perbuatan. 



Share:

0 Comments:

Post a Comment