Tak ada kejadian yang kebetulan, karena semua yang terjadi di dunia ini
merupakan takdir yang sudah ditentukan dan dituliskan jauh sebelum kita semua
dilahirkan
Malam jum’at 10 Oktober saya terbangun dari tidur dikarenakan ada suara
ceramah dari seseorang yang mengaku bukan ustadz, bukan kyai dan juga bukan
ulama akan tetapi isi yang disampaikan dalam ceramah tersebut menjadi sebuah
tamparan bagi saya khususnya, umumnya tentu untuk yang mengaku sebagai umat
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam.
Hari ini saya terbangun dari tidur
dikarenakan ada suara ceramah dari seseorang yang mengaku bukan ustadz, bukan
kyai dan juga bukan ulama akan tetapi isi yang disampaikan dalam ceramah
tersebut menjadi sebuah tamparan bagi saya khususnya, umumnya tentu untuk yang
mengaku sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam.
Saya terbangun di tengah-tengah bahkan
mungkin di bagian utama mendekati akhir dari ceramah yang disampaikan oleh
seorang yang saat ini di Jawa Barat jadwal undangan untuk setahun kedepan sudah
penuh, beliau dikenal dengan jargon yang dipopulerkan juga oleh seorang konten
kreator dengan kalimat “well”, ya beliau ini dipanggil dengan nama Nana
Gerhana.
Adapun materi yang disampaikan dalam
ceramah tersebut adalah tentang maulid Nabi, dimana dalam isi materi yang
disampaikan mubaligh ini adalah tentang mulianya akhlak Baginda Nabi, yang jadi
pertanyaan nya kita sering memperingati maulid Nabi akan tetapi sudah sejauh
mana kita meneladani mulianya akhlak Beliau?
Pertama, ketika Nabi datang ke tha’if
untuk menyampaikan risalah kebenaran, bukannya mendapatkan sambutan yang baik
akan tetapi malah mendapatkan hujan batu, alias dilempari batu oleh masyarakat
sampai Beliau berdarah, bahkan saking khawatirnya Beliau menahan darah itu menetes
ke tanah karna dengan itu bisa saja membuat malaikat menimpakan azab kepada
penduduk tha’if, tak cukup sampai disana kemuliaan baginda Nabi, alih-alih membalas
lemparan batu dengan keburukan juga, Nabi malah mendo’akan semoga kelak anak
keturunan di kota tersebut menjadi muslimin yang akan menjaga ajaran Islam
kelak di masa yang akan datang. Tentunya sangat berat buat kita jika ingin
meneladani hal ini karena jangankan dilempari batu, baru mendapat kritikan atau
cibiran saja ketika menyampaikan kebenaran, yang ada kita malah (kukulutus)
menyampaikan kekesalan dengan segala sumpah serapah yang diucapkan dengan
menyebut kata-kata yang buruk padahal sejatinya kata buruk tersebut bisa
kembali kepada diri kita.
Yang kedua, ketika beliau bertemu dengan seorang
pengemis tua dan buta dari kaum yahudi yang kelaparan, tanpa pandang bulu
Beliau menyuapi pengemis tersebut dengan makanan yang sudah dilembutkan terlebih
dahulu, padahal disaat Nabi menyuapi, pengemis itu malah mengeluarkan kata-kata
kasar dengan menyebut “Muhammad orang gila, tukang sihir dan lain sebagainya, Anda
itu lebih mulia daripada orang yang bernama Muhammad itu” akan tetapi Baginda
Nabi hanya tersenyum sembari terus meneruskan menyuapi pengemis itu sampai
Beliau meninggal, sahabat Abu Bakar yang ingin meneruskan sunnah Nabi untuk
memberi makan kepada pengemis tua dan buta itu kemudian datang dan menyuapinya,
seketika pengemis itu mengetahui bahwa orang yang menyuapinya adalah orang yang
berbeda, setelah menjelasakan penjelasan bahwa orang yang menyuapinya selama
ini telah meninggal dunia dan diberitahukan bahwa orang yang menyuapinya itu
adalah Nabi Muhammad itu sendiri, seketika yahudi tersebut mengucapkan syahadat
dan menjadi mualaf. Sejatinya hal ini masih berat jika kita ingin meneladani
akhlak mulia Nabi yang satu ini, karena alih-alih kita menyuapi dengan
melembutkan makanan kemudian menyuapi orang yang mencaci maki kita, sedikit
saja tersinggung jangankan untuk memberi makan, bahkan seringnya kita enggan
untuk saling menyapa walaupun itu tetangga sekalipun.
Jika yang ketiga ini terlampau sulit, mari
kita coba tela’ah semoga yang ketiga ini kita bisa meneledani akhlak Nabi yang
ketiga ini. Ketika Nabi berangkat untuk pergi ke Mesjid setiap Beliau melewati
rumah tetangganya dalam riwayat disebutkan diludahi, (riwayat lain mengatakan disiram
dengan air kotor), selalu saja begitu ketika melewati rumahnya ini, jika ibu
melihat hal seperti itu kepada suami apa yang akan dikatakan?, biasanya yang terjadi
itu ibu mengompori suami untuk jangan kalah bahkan mungkin ngasih pisau untuk
membela diri. Akan tetapi istri Nabi yang sangat dicintainya yakni Ibunda
Khadijah mengatakan “mandi dan gantilah kembali pakaianmu suamiku”, sangat
kontras bukan?,
Satu waktu orang yang suka meludahi Nabi
itu jatuh sakit dan kabar tersebut sampai kepada Istri Nabi, kemudian Siti Khadijah
sebagai istri sholehah yang memiliki suami yang berakhlak mulia memberitahu Nabi
bahwa orang tersebut sakit, seketika itu Nabi langsung bergegas untuk menjenguk
dan mendo’akan orang yang suka menyiram Nabi dengan air kotor, tentunya orang
tersebut pada akhirnya malu dengan mulianya akhlak Nabi ini, dan langsung
mengucapkan syahadat untuk menjadi muslim karena melihat betapa mulianya akhlak
Nabi.
Dari ketiga contoh tersebut tentunya tak
satupun dari kita yang menaladani begitu mulianya akhlak Baginda Nabi Muhammad.
Padahal setiap tahun kita memperingati maulid Nabi hanya saja secara seremonial
saja, tak lebih dari seperti kelompok anak kecil yang mengetahui Nabi Muhammad
lahir 12 Rabiul 571 Masehi (tahun gajah) dengan Ayah bernama Abdullah dan
Ibundanya bernama Aminah.
Padahal esensi dari maulid Nabi itu
sendiri tak hanya mengetahui hal mendasar yang sudah diketahui anak kecil, akan
tetapi harusnya kita meneladani Nabi sebagai guru yang sempurna karena tak
hanya menyampaikan kebenaran secara lisan tapi mencontohkan langsung dalam
perbuatan.
0 Comments:
Post a Comment