Saturday, September 7, 2024

Mari introspeksi, kenapa sampai terjadi menjadikan teladan pemuka umat agama lain!



Kedatangan pemuka agama lain mulai dari beberapa hari lalu sempat menjadikan berbagai kontroversi, berawal dari masalah adzan bahkan sampai akhir-akhir ini yang ramai jadi bahan perbincangan tentang kesederhanaan nya dalam kehidupan sehari-hari. 

Beberapa sangkalan yang sering muncul yaitu bukankah Nabi telah memberikan teladan dalam hidup sederhana, bahkan Sahabat Nabi yang menjadi penerus Beliau dalam hidup sederhana yakni Umar Bin Khattab menangis ketika Seorang Pemimpin yang dicintainya hanya tidur di atas dipan yang keras bukan di kasur mewah sebagaimana raja-raja yang sudah menjadi lumrah. 

Mungkin akan muncul beberapa pembelaan, karena Nabi hidup di masa lalu dan hanya menjadi sejarah yang dibangga-banggakan, akan tetapi paus yang hidup saat ini adalah bukti nyata yang terlihat. 
Saya tidak akan membantah jika argumen yang muncul seperti kalimat diatas, karena memang nyata  adanya para 'alim yang disebut penerus para Nabi sendiri justru mayoritas di negara ini hanya memperlihatkan kemewahan dan kemegahan dengan alasan untuk memperlihatkan karunia dan nikmat dari Tuhan. 

Saya sendiri pernah memberikan pertanyaan kepada beberapa tokoh agama semasa (Alm) Ustadz Jefri Al-Buckhory masih hidup di sosial media yang sedang viral saat itu, adapun pertanyaan tersebut kurang lebih seperti ini "Nabi dan Para Sahabat mengajarkan hidup sederhana, akan tetapi kenapa kebanyakan tokoh agama yang ada di negara kita seperti tidak ada ulama yang mencontohkan untuk hidup sederhana?" 

Dari pertanyaan tersebut, hanya 2 orang tokoh yang menjawab pertanyaan tersebut, yang pertama yaitu (alm) ustadz Jefri dengan jawaban "marilah saling berprasangka baik kepada sesama, saling menjaga kesatuan dan persatuan" adapun orang yang kedua yang menjawab pertanyaan itu adalah Kang Abik yang saat itu sedang menjadi trending topic karena karya novel yang fenomenal dan diangkat ke film layar lebar pun mendulang sukses dengan judul ayat-ayat cinta memberikan jawaban kepada saya "jika tidak ada ulama yang sederhana, maka jadilah kamu ulama yang sederhana" 

Dari dua pernyataan tokoh agama yang saat itu populer menjadikan motivasi khususnya untuk saya sendiri untuk menjadi sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan Para Sahabat yang memilih hidup sederhana padahal jika mau bisa saja menunjukan kekayaan mereka. 

Akan tetapi saat ini, berbeda dengan beberapa tahun ke belakang dengan kehadirannya Gus Baha dan Ustadz Abdul Somad seolah menjadi bukti untuk saya pribadi bahwa masih ada 'alim ulama yang menjadi penerus Nabi untuk hidup sederhana. Jadi saya rasa untuk muncul ke permukaan biarkan Beliau-Beliau inilah yang lebih kompeten daripada saya untuk berbicara di dunia nyata, entah itu di televisi ataupun sosial media. Saya sendiri dengan segala keterbatasan ilmu memilih untuk menulis seperti ini saja dan aktif di sosial media sebagai orang biasa saja. 

Jadi kesimpulannya jauh sebelum kita hidup sekarang pada 14 abad yang lalu, Allaah mengirimkan utusan untuk menjadi teladan bagaimana hidup sederhana meskipun kekayaan ada, hanya saja memang beberapa para penerusnya tak sedikit yang memilih hidup dengan bergelimangan harta. Akan tetapi dengan munculnya tokoh seperti Gus Baha dan UAS menjadi satu bukti bahwa saat ini bukan alasan untuk kita menjadikan orang yang ada diluar sebagai teladan karena jelas keyakinan kita dengan orang tersebut berbeda. 

Saya menulis seperti ini bukan anti perbedaan ataupun menolak bhineka tunggal ika, hanya saja kita harus memperluas wawasan karena masih ada tokoh agama yang melestarikan untuk hidup sederhana, hal ini harusnya menjadikan teguran untuk beberapa tokoh agama yang masih senang untuk hidup bermegah-megahan, entah apapun dalilnya karena bagi saya jika memang mengaku para penerus Nabi, sudah selayaknya untuk hidup sederhana meskipun memiliki kekayaan berlimpah. Karena bukan rahasia umum juga mayoritas masyarakat di kita seperti apa, alangkah indahnya jika kekayaan-kekayaan para tokoh agama ini tak hanya dijadikan bisnis saja, akan tetapi bisa disalurkan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan di sekitar, tanpa harus publikasi, tanpa harus bawa-bawa kamera dan media. 

sekian, Billahi Fii Sabilil Haq  
Share:

0 Comments:

Post a Comment