Salamu'alaikum sahabat
Sudah lama saya tidak menulis diblog ini, entah itu karena sibuk dengan urusan duniawi ataupun memang sedang malas karena saya bisa dikatakan orang yang moody dalam melakukan segala sesuatu
Intermezzonya cukup sekian aja ya, kita langsung ke topik pembicaraan yang sudah saya tulis di judul di atas. Bagi seorang muslim sudah tentu pernah merasakan kadang kita bersemangat untuk mendekatkan diri dengan Allaah, kadang juga kita malah enggan untuk menjalankan perintah apalagi menjauhi laranganNYA, manusiawi kah?, kalo saya rasa sangat manusiawi, alasannya saya akan bahas dibawah aja ya biar paragrafnya tidak terlalu panjang
Jika dimisalkan iman itu seperti batre dalam handphone, jika terus diisi maka tentu akan penuh, namun jika dibiarkan maka tentu akan habis entah itu cepat atau lambat. Sama hal nya dengan iman, jika diterus diisi dengan ilmu maka iman akan terus meningkat, namun jika dibiarkan lambat laun keimanan kita mulai turun, terlebih di akhir zaman sekarang ini, dimana kemaksiatan dan keburukan sudah tampak di depan mata..
Seprti yang tadi dibahas, iman itu seperti batre, ada yang cepat pengisiannya dan awet daya tahannya, bahasa kerennya sih katanya fast charging, selain itu ada juga yang lama pengisiannya dan juga lumayan lama habisnya, dan yang paling bikin kesel tentunya yang pengisiannya lama tapi daya tahannya sebentar atau istilahnya ngedrop
Penjelasan tadi hanyalah analogi keimanan ibarat batre, sekarang menurut para ulama keimanan tidak jauh beda dengan apa yang saya jelaskan tadi, iman yang gampang terisi ini disebut orang-orang beruntung dimana ketika keimanan kita sedang turun, maka dengan mudah orang beruntung ini bisa menangkap bahwa dia ada dalam kekurangan daya ingat kepada Sang Pencipta, sehingga ia beristighfar dan mengkaji ilmu lagi untuk lebih menguatkan keimanannya.
Nah orang yang lama pengisian keimanan dan lama juga turun keimanannya sepertinya pas untuk para mualaf yang mempelajari Islam terlebih dahulu, sebelum mereka memutuskan untuk bersyahadat dan menjadi seorang muslim. Dan ketika mereka telah menjadi seorang muallaf sudah tentu keimanan mereka akan kuat karena sebelum memutuskan untuk menjadi seorang muslim para mualaf ini sudah mendalami ilmu Islam terlebih dahulu dibanding kita yang notabene hanya muslim turunan yang tinggal mau mendengarkan apa yang orangtua kita sampaikan. Selain untuk mualaf keimanan jenis ini dalam kehidupan nyata bisa kita temukan dalam seorang yang taubat sebenar-benarnya taubat istilahnya taubatan nasuha. Biasanya masalalu yang kelam karena suatu hal yang menyakiti dirinya kemudian cahaya petunjuk datang padanya tanpa ia sadari dan sudah tentu tak bisa ditolak. Dalam sejarah orang seperti ini diceritakan ada pada diri seorang khalifah yang kedua yakni Umar Bin Khattab.
Terakhir orang yang keimanannya sangat susah diisi untuk naik kadarnya tapi sangat cepat turun alias ngedrop, ini keimanan yang paling berbahaya dan banyak menghinggapi orang-orang akhir zaman, termasuk saya mungkin. Dikatakan bahaya karena kita tidak pernah mengetahui kapan kita mati bukan?, masih mending jika kita dipanggil kembali ke alam baqa pada saat iman kita naik, nah yang jadi masalah jika dipanggil ketika keimanan kita sedang turun?, apalagi sampe kufur, celakalah kita mati dalam keadaan suul khatimah alias akhir yang buruk. Tapi meskipun begitu semoga kita orang akhir zaman yang keimanan kita tidak seperti batre ngedrop ini, bagusnya sih bisa fast charging atau paling ga yang normal-normal aja ya..
Ok segitu aja deh dulu takutnya kepanjangan bikin males baca sobat semua, padahal saya belum ada inspirasi buat analoginya lagi,, hee
Ok sob nanti dilanjut di part 2 nya ya untuk cara bagaimana supaya keimanan kita stabil alias istiqamah..
Billahi fi sabilil haq
Wasalamu'alaikum
0 Comments:
Post a Comment