Wednesday, December 24, 2025

Banjir Air Mata di Aceh dan Sumatera, Banjir Sampah di Media Sosial: Di Mana Nurani Kita?

1.112 Korban Tewas, 176 orang Hilang jumlah korban banjir bandang Sumatera &
Aceh beberapa waktu lalu, sepertinya tak menjadi masalah buat mayoritas penduduk ini, mungkin karena merasa masih banyaknya penduduk negeri ini, atau perlahan tapi pasti kita dialihkan oleh drama pengalihan isu masalah selangkangan, yang sebenarnya dari dulu watak seorang pria ya begitu ujiannya, harta, tahta wanita. 

Kita lebih sibuk menghakimi satu orang yang gagal di ranah pribadinya, daripada menangisi ribuan nyawa yang hilang karena kegagalan kita menjaga alam, bukankah ini ironi?, atau prioritas kita sudah cacat karna sudah mulai hilangnya empati?

 Pesan Tersirat dari Bencana

Padahal awal kejadian setelah banjir bandang disana, Ustadz Adi Hidayat mengingatkan kita untuk bertaubat, dengan bahasa tersirat Beliau mungkin ingin menyampaikan bahwa negeri kita ini sudah terlalu banyak dosa.

Coba saja flashback ke belakang berapa kasus yang terjadi di daerah yang terjadi di daerah bencana tersebut sebelum air bah datang?, 

  • mulai dari Mahasiswa yatim piatu yang meregang nyawa hanya karena tidur di Mesjid.
  • Kasus pelecehan kepada mahasiswi juga kan oleh oknum yang tak bertanggung jawab

Hiburan di Atas Penderitaan
Alih-alih kita evaluasi diri dan bertaubat seperti yang disampaikan Ustadz Adi, ternyata drama selangkangan public figur jauh lebih "bergizi" untuk menjadi konsumsi akal. Padahal ini berbahaya, karena pada akhirnya bisa membuat otak mati dan hati hilang empati. Mayoritas kita lebih suka menonton keruntuhan moral orang lain daripada sibuk untuk memperbaiki diri.  

 "Gue belajar dari diskusi Ferry Irwandi & Om Ded, bahwa masalah bangsa ini bukan cuma soal banjir air, tapi banjir informasi sampah. Kita lebih pusing sama urusan selangkangan tokoh publik daripada nyawa saudara kita di Sumatera. Kita lebih emosi sama rasisme oknum (Resbob) tapi kita sendiri rasis sama waktu kita sendiri—habis buat hal yang nggak guna."

Tentang Rasisme dan Efek Jera 

Disatu sisi gue setuju juga sama diskusi mereka tapi di soal rasisme, gue punya sikap tegas: memang sudah sepantasnya orang-orang seperti Resbob ini dikasih efek jera. Kenapa?, supaya Indonesia yang terkenal gemah ripah loh jinawi ini tidak tercemar dan hancur hanya karena ulah segelintir orang (apalagi kalau benar itu anak koruptor) yang cuma pengen viral dengan cara kontroversi. Polanya basi: bikin masalah, dapet cuan dari viralitas, lalu dengan mudah bikin klarifikasi permohonan maaf.  

Klarifikasi tidak menyembuhkan luka rasisme, dan maaf tidak mengembalikan ribuan nyawa yang hanyut. Saatnya kita berhenti jadi penonton drama, berhenti jadi hakim untuk semua perkara, dan mulai kembali dengarkan hati nurani.

Share:

0 Comments:

Post a Comment